<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="88969">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS MARGIN PEMASARAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DI KOTA LHOKSEUMAWE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mustafa Kamal</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Mustafa Kamal : Analisis Margin  Pemasaran  Virgin Coconut  Oil (VCO) di Kota  Lhokseumawe&quot;.  Dibawah bimbingan Ir. M. Nasir  Abdussamad, M.Si sebagai pembimbing  pertama dan Dr.  Ir.   Azhar Muslim  MS  selaku  pembimbing kedua.&#13;
Kelapa  adalah tanaman perkebunan terluas di Indonesia setelah sawit yang tersebar  hampir  di  seluruh daerah provinsi  dan melibatkan lebih  banyak petani pemilik  dibandingkan perusahaan perkebunan.  Namun demikian,  usahatani  kelapa ini  belum mampu menjadi  sumber pendapatan utama  bagi  keluarga  tani,  karena produktivitas  tanaman dan nilai  tukar produk primer yang dihasilkan  (kopra dan minyak) cenderung kurang  potensial. Akibatnya, beberapa petani kini memilih  tidak menjual kelapanya melainkan mengolah menjadi  Virgin Coconut Oil (VCO).&#13;
Meskipun dukungan bahan baku kelapa relatif melimpah, namun tingkat persaingan  pasar VCO  mulai  menekan  tingkat   harga pasar,  sehingga  pengrajin memerlukan strategi harga yang efektif. Fenomena ini juga melanda sejumlah industri VCO  di  Kota  Lhokseumawe,  namun  karena  potensi  harga pasar  VCO  yang dipasarkan  di daerah ini  masih prospek terhadap  perolehan  profit margin,  maka kenaikan bahan  baku (kelapa) tetap saja bisa ditolerir oleh pengrajin. Karena berbasiskan daerah, maka perusahaan VCO Lhokseumawe dapat memangkas jalur pendistribusian produk yang relatif lebih efisien di banding produk yang berasal dari luar daerah,  sehingga harga VCO yang ditetapkan tetap memberikan margin ditengah naiknya harga  bahan baku.&#13;
Sebagai bentuk perusahaan berskala kecil,  maka perasaran  VCO di  Kota Lhokseumnawe di dukung oleh sejumlah saluran distribusi  yang  bersifat  individual dan  tanpa melibatkan  kegiatan  promosi.  Masing-masing  individu  membeli  VCO dalam jumlah  besar  dan  selanjutnya  melakukan   penjualan  secara konsinyasi (penitipan) pada sejumlah depot obat dan apoteker pada tingkat harga yang memberikan keuntungan.   Harga tersebut   dapat   berbeda pada  sejumlah  posisi pedagang  eceran.   Penurunan  harga  pasar  VCO juga  dihadapi  oleh  para distributor&#13;
untuk menetapkan harga jual  pada posisi yang lebih menguntungkan.&#13;
Penelitian      ini    bertujuan    untuk     mengetahui     tingkat    profit     margin yang diterima oleh masing-masing kelembagaan pemasaran VCO di Kota Lhokseumawe dan  strategi  penetapan harga  yang  dilakukan oleh  masing-masing lembaga pemasaran tersebut. Diharapkan penelitian akan  memberikan sumbangan pemikiran  yang  mutakhir bagi  perusahan  VCO  serta  dapat  melengkapi  temuan- temuan   empiris   di   bidang   ekonomi   pertanian  dan   menjadi   referensi  dalam penelitian lanjutan.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan di lokasi sentra kerajinan VCO di  Kota Lhokseumawe  dengan   menggunakan metode   survey.   Pengumpulan  data  primer dilakukan    dengan   teknik    pengamatan    lapangan    (observesi),   wawancara   dan membagikan  lembar pertanyaan (kuesioner) yang telah  dipersiapkan  kepada agen yang terpilih sebagai  sampel  penelitian.  Penelitian ini juga didukung oleh data-data sekunder dan primer  yang  diperoleh dari perusahaan VCO  di Kota  Lhokseumawe. Data primer selanjutnya dianilisisi dengan  formulasi  margin  pemasaran&#13;
Hasil  penelitian mejelaskan  proses  produksi  VCO  di  Kota  Lhokseumawe relative disesuaikan dengan  skala  dan  potensi pesanan  oleh  agen  dan harga pokok produksi   menjadi  dasar harga  terendah  bagi  pengrajin  untuk  menetapkan  harga jual.  Dengan  strategi ini pengrajin akan  memperoleh margin  dari selisih  harga jual dengan  harga  pokok  produksi.  Tingginya harga  saing  pasar  menyebabkan  harga jual  VCO yang  ditetapkan pengrajin  relatif konstan yaitu  15.000 rupiah  per botol Margin   yang   diterima  dari   selisih   harga  jual   ini   akan   terakumulasi   menjadi.keuntungan, semakin tinggi jumlah penjualan akan semakin besar  pendapatan  yang diterima  pengrajin.  Tahun  2006  laba  yang  diterima  pengrajin  rata-rata   mencapai&#13;
1.121.400 perbulan Pengrajin  sebagai   lembaga  awal  akan   memproduksi  dan  menjual   VCO sesuai  dengan   permintaan  agen.  Pihak agen   selanjutnya  menjual  produk  VCO kepada  para pengencer yaitu Apoteker dan  Depot  Obat secara  konsinyasi. sehingga apotik  akan  menerima fee  dan  margin  yang  diberikan   sepihak  oleh  agen.   Tahun 2006 jumlah  pesanan  VCO tingkat  pengecer rata-rata mencapai 42 botol per bulan. Dengan harga  pembelian  relatif konstan   sepanjang  tahun  yaitu   15.000 per  botol. maka nilai pembelian agen tahun 2006 rata-rata mencapai 630.000 rupiah Penyaluran/pendistribusian  VCO  di  Kota Lhokseumawe  VCO  merupakan pekerjaan  sampingan  yang memberi   peluang  bagi  agen  untuk  meraup  keuntungan. Mereka memiliki  strategi  untuk  memperoleh  keuntungan   dengan  kebijakan  harga jual yang  ditetapkannya. Dengan nilai  penjualan rata-rata  mencapai  860.500  rupiah per  bulan    serta   dengan    harga   pokok    pembelian   dan   biaya    pemasaran    yang dikeluarkan  rata-rata  630.000  rupiah  dan  48.000  rupiah per bulan,  maka tahun  2006 keuntungan   yang diterima   agen  mencapai  182.500  rupiah per bulan.  Keuntungan yang  diterima  agen tahun  2005 relatif kecil  yaitu rata-rata   102.500 rupiah per bulan akibat strategi  harga jual  yang kurang efektif.&#13;
Sepanjang saluran  distribusi   tersebut, sentra kerajinan  VCO  adalah lembaga yang menerima  profit  margin  terbesar yaitu  rata-rata  7,000 rupiah per unit  VCO. Harga ini diterima dari selisih  harga jual  dikurangi  dengan  harga  jual  yang  relatif konstan  yaitu  15.000 rupiah per  botol,  serta  biaya  produksi  dan    biaya  pemasaran masing-masing 7,000 upiah  dan  1000 rupiah  per botol.  Profit  margin  yang  diterima sentra  kerajinan  VCO  tahun  2006  tersebut  relatif  kecil  dibanding   tahun  2005  yaitu 9.000 per botol.&#13;
Naiknya harga  kelapa  dan  tenaga  kerja  yang tidak diimbangi  oleh  kenaikan harga  jual  ditingkat  pengrajin  adalah   kondisi   yang   menyebabkan relatif kecilnya profit  margin yang  diterima oleh  sentra  kerajinan  VCO tahun 2006.  Dengan demikian adanya kekhawatiran pengrajin untuk menaikkan  harga akibat semakin kompetitifnya harga  pasar.  Sementara  pada tahun yang  sama para  agen  memperoleh margin pemasaran 4.353,43  rupiah per botol.  Margin ini merupakan  selisih harga jual rata-rata 20,500  rupiah per botol  dengan harga beli  dan biaya pemasaran masing- masing  15,000  rupiah dan  1,146.57  rupiah  per  botol,  profit margin  naik hampir  dua kali dari profit margin tahun 2005.&#13;
Karena  hampir   umumnya  produk   VCO  yang  dijual  oleh  pengecer  adalah produk  kosinyasi (titipan) para agen,  maka  pengecer yang terdiri dari apoteker  dan depot obat pihak yang  menerima  margin dari agen  yaitu  pada tahun 2006  sebesar 2,500.00 rupiah per  botol.  Margin  ini  merupkan  selisi  harga  jual  yang  ditetapkan agen dan  harga pengembalian untuk agen  masing-masing  sebesar 23,000  per botol dan 20,500 rupiah per botol.&#13;
&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>88969</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-03-16 15:47:01</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-03-16 15:47:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>