<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="88955">
 <titleInfo>
  <title>NDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN ANGGREK DENDROBIUM PADA BERBAGAI UMUR DENGAN PENAMBAHAN BEBERAPA KONSENTRASI 2,4-DICHLOROPHENOXYACETIC ACID SECARA IN VITRO</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Indah Anggraini</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2021</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Anggrek Dendrobium merupakan tanaman hias famili Orchidaceae yang memiliki &#13;
beragam jenis dan banyak spesies. Kendala dalam agribisnis anggrek adalah produksi bibit &#13;
yang lama dan jumlahnya sedikit, sehingga perlu diperbanyak secara kultur in vitro. Eksplan &#13;
daun dipilih karena selalu tersedia sepanjang musim dan mudah diperoleh. Perbanyakan &#13;
eksplan daun secara in vitro umumnya menggunakan kultur kalus, yang bertujuan untuk &#13;
memproduksi bibit secara cepat dengan jumlah yang banyak dan kualitasnya lebih baik. &#13;
Faktor penentu keberhasilan kultur kalus adalah umur eksplan daun, daun muda lebih cepat &#13;
membentuk jaringan sel baru daripada daun yang sudah mengalami fase akhir. Keberhasilan &#13;
kultur kalus juga dipengaruhi oleh adanya penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT). ZPT &#13;
jenis auksin (2,4-D) sering digunakan untuk memacu pertumbuhan kalus dan merangsang &#13;
pembelahan sel.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur eksplan daun, konsentrasi &#13;
2,4-D serta interaksi diantara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan kalus anggrek &#13;
Dendrobium secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan &#13;
Tanaman Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Darussalam &#13;
Banda Aceh. Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni sampai Desember 2020.&#13;
Penelitian ini menggunakan dua faktor perlakuan dengan setiap faktor terdiri dari &#13;
empat taraf. Faktor perlakuan pertama yaitu umur eksplan daun, dengan taraf yang terdiri &#13;
dari daun berumur 5, 6, 7 dan 8 bulan. Faktor kedua yaitu konsentrasi 2,4-D, dengan taraf &#13;
yang terdiri dari kontrol (tanpa 2,4-D), 0,50 mg L&#13;
-1&#13;
, 0,75 mg L&#13;
-1&#13;
dan 1 mg L&#13;
-1&#13;
. Semua &#13;
perlakuan menggunakan ZPT BAP dalam konsentrasi yang sama yaitu 1 mg L&#13;
-1&#13;
. Terdapat &#13;
16 kombinasi perlakuan dengan 5 kali ulangan, sehingga diperoleh 80 satuan percobaan.&#13;
Parameter yang diamati adalah persentase kontaminasi dan persentase warna eksplan.&#13;
Penelitian dilakukan dengan dua cara sterilisasi.&#13;
Hasil penelitian pada semua percobaan menunjukkan bahwa tidak ada eksplan yang &#13;
berhasil membentuk kalus sampai 12 minggu setelah inisiasi (MSI). Pada sterilisasi cara II &#13;
penanaman kedua persentase eksplan hidup tertinggi dijumpai pada eksplan daun berumur &#13;
7 bulan + kontrol (13,3%). Pada sterilisasi cara II penanaman ketiga persentase eksplan &#13;
hidup tertinggi dijumpai pada eksplan daun berumur 5 bulan + kontrol (66,7%) dan eksplan &#13;
daun berumur 8 bulan + kontrol (66,7%). &#13;
Hasil penelitian terhadap persentase kontaminasi menunjukkan bahwa pada &#13;
sterilisasi cara I sebanyak 98,75% eksplan terkontaminasi oleh jamur. Pada sterilisasi cara II &#13;
penanaman kedua tidak ada eksplan yang terkontaminasi, namun pada umur 4 MSI eksplan &#13;
mulai menunjukkan gejala browning dan tidak membentuk kalus. Pada sterilisasi cara II &#13;
pada penanaman ketiga sebanyak 36 eksplan terkontaminasi dengan total persentase &#13;
kontaminasi sebesar 15%. &#13;
Hasil penelitian pada persentase warna eksplan menunjukkan bahwa eksplan mulai &#13;
mengalami browning pada umur 4 dan 5 MSI. Eksplan daun anggrek sterilisasi cara II &#13;
penanaman kedua yang menghasilkan persentase eksplan browning tertinggi pada umur 12 &#13;
MSI, dijumpai pada eksplan daun berumur 5 bulan + 0,50 mg L-1&#13;
2,4-D, daun berumur 5 xiii&#13;
bulan + 1 mg L-1&#13;
2,4-D, daun berumur 6 bulan + 0,50 mg L-1&#13;
2,4-D dan daun berumur 8 &#13;
bulan + 0,75 mg L-1&#13;
2,4-D sebesar 100%. Eksplan daun anggrek sterilisasi cara II penanaman &#13;
ketiga yang menghasilkan persentase eksplan browning tertinggi pada umur 8 MSI, dijumpai &#13;
pada eksplan daun berumur 5 bulan + 1 mg L-1&#13;
2,4-D dan eksplan daun berumur 8 bulan +&#13;
0,75 mg L-1&#13;
2,4-D sebesar 100%.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>88955</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-03-16 12:14:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-03-16 12:19:26</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>