PERBEDAAN PENDAPATAN PEDAGANG PENGECER BERAS SEBELUM DAN SESUDAH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK DI KOTA BANDA ACEH. | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PERBEDAAN PENDAPATAN PEDAGANG PENGECER BERAS SEBELUM DAN SESUDAH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK DI KOTA BANDA ACEH.


Pengarang

Zakiah - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0405102010136

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Agribisnis (S1) / PDDIKTI : 54201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2021

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Zakiah dengan judul skripsi "Perbedaan Pendapatan Pedagang Pengecer Beras Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak di Kota Banda Aceh" dengan pembimbing Utama Bapak Ir. M. Nassir Hawy, MS dan Pembimbing Kedua Bapak Ir. Mulizar, S.H. MSi
Permasalahan dalam penelitian ini adalah "Apakah pendapatan pedagang pengecer beras sebelum kenaikan harga Bahan Bakar minyak lebih besar daripada pendapatan pedagang pengecer beras sesudah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Kota Banda Aceh"?
Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah salah satu jenis bahan bakar. Bahan bakar merupakan komoditas penting yang digunakan hampir setiap orang. Harganya dapat mempengaruhi kinerja ekonomi suatu negara. Dalam dunia perminyakan di Indonesia harga BBM telah terjadi beberapa kali kenaikan, dan pada tanggal 24 Mei 2008 BBM terjadi kenaikan rata- rata sebesar 28,7%. Kenaikan BBM telah memicu kenaikan harga -harga kebutuhan pokok termasuk beras. Di Indonesia pada umumnya dan di NAD pada khususnya masalah pangan identik dengan masalah beras, karena beras di konsumsi oleh sebagian besar masyarakat sebagai menu utama.
Kota Banda Aceh merupakan ibukota dari NAD, walaupun Ibukota NAD tetapi sektor pertanian bukan merupakan produksi unggulan dari kegiatan perekonomian Kota Banda Aceh. Hal ini disebabkan kondisi geogarafis Kota Banda Aceh yang kurang mendukung untuk kegiatan usaha pertanian. Beras bagi masyarakat Kota Banda Aceh pada umumnya sudah menjadi kebutuhan mendasar yang sampai sekarang sulit tergantikan dengan pangan yang lain. Namun harga beras di pasaran masih cukup tinggi meski di tingkat petani harga gabah rendah. Kenaikan harga beras sangat rentan memicu kenaikan harga barang pokok yang lain. Kondisi ini mempengaruhi perekonomian Indonesia umumnya dan Kota Banda Aceh pada khususnya, diantara adalah perdagangan beras pada tingkat pengecer di Kota Banda Aceh. Dengan kenaikan BBM pendapatan yang diterima oleh pedagang pengecer beras semakin kecil akibat menurunnya jumlah pennintaan dan jumlah penawaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan pedagang pengecer beras sebelum dan sesudah kenaikan harga bahan bakar minyak di Kota Banda Aceh.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pedagang pengecer beras yang ada di Kota Banda Aceh, metode yang digunakan dalam pelitian adalah metode Survey. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Simple Random Sampling. Dari 6 pasar diambil 3 pasar secara sengaja yaitu Pasar Peunayong, Pasar Ulee Kareng,
dan Pasar Seutui. Dari masing-masing pasar diambil sampel 20% jadi di dapat 19 pedagang sampel dari 97 jumlah populasi yang terdapat di pasar sampel. Sehingga dapat mewakili seluruh populasi setiap pedagang pengecer beras di lokasi penelitian.Berdasarkan pengujian perbedaan pendapatan sebelum dan sesudah kenaikan
harga BBM, hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan pedagang pengecer beras sebelum kenaikan harga Bahan Bakar minyak lebih besar dari pada pendapatan pedagang pengecer beras sesudah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Kota Banda Aceh.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK