SIFAT KIMIA TIGA ORDO TANAH, PERTUMBUHAN, DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG DI LAHAN KERING KABUPATEN ACEH BESAR AKIBAT APLIKASI AMELIORAN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

SIFAT KIMIA TIGA ORDO TANAH, PERTUMBUHAN, DAN SERAPAN HARA TANAMAN JAGUNG DI LAHAN KERING KABUPATEN ACEH BESAR AKIBAT APLIKASI AMELIORAN


Pengarang

Raiminazifa Binti Yakob - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1505108010042

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2021

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah digenangi air atau tergenang air pada sebagian waktu selama setahun atau lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan. Walaupun kekurangan air pada musim tertentu, lahan ini pada dasarnya sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai lahan produktif dengan memberikan bahan-bahan pembenah tanah (amelioran). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian amelioran pada tiga ordo tanah di lahan kering (Andisols, Inceptisols, dan Ultusols) terhadap pertumbuhan, serapan hara, dan perubahan sifat kimia di lahan kering Aceh Besar.
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dalam dua kali ulangan. Faktor pertama adalah bahan amelioran yang terdiri dari delapan taraf, yaitu: A0 = tanpa amelioran, A1 = biochar 20 t ha-1, A2 = kompos 20 t ha-1, A3 = CaCO3 4 t ha-1, A4 = SP-36 4 t ha-1, A5 = biochar 10 t ha-1 + CaCO3 10 t ha-1, A6 = kompos 10 t ha-1 + CaCO3 10 t ha-1, dan A7 = biochar 10 t ha-1 + kompos 10 t ha-1. Faktor kedua adalah ordo tanah yaitu T1 = Andisol, T2 = Inceptisol, dan T3 = Ultisol. Bahan yang digunakan adalah tanah lapisan atas (0-20 cm) dari tiga ordo tanah yaitu: Andisols (Eutric Hydrudans) Saree, Inceptisols (Oxicaquic Destrudepts) Cucum, dan Ultisols (Typic Kandiaquults) Jantho. Tanman jagung yang digunakan sebagai indikator adalah jagung hibrida varietas Bisi-2. Sebagai pupuk dasar digunakan pupuk NPK (15-15-15) Nitrofoska dengan dosis 300 kg ha-1. Tinggi tanaman diukur pada saat 14, 21, 28, 35, dan 42 HST sedangkan sampel serapan hara di analisis saat 45 HST dan sampel tanah untuk analisis sifat kimia diambil setelah panen. Sifat-sifat kimia tanah yang dianalisis meliputi pH (H2O) dalam perbandingan tanah dan air 1:2.5, C organik (Metode Wakley and Black), P tersedia (metode Bray II), dan kapasistas tukar kation (KTK) menggunakan metode 1N NH4OAc pH7.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kimia tanah mengalami perubahan setelah aplikasi amelioran yaitu: (a) pH tanah rata-rata meningkat dari 7,05 menjadi 9,06 (dari kriteria agak alkalis menjadi alkalis), (b) C-organik meningkat dari 0,47 hingga 2,69% (dari kriteria sangat rendah menjadi sedang), (c) P-tersedia meningkat dari 1,63 hingga 130,93 mg kg-1 (dari sangat rendah menjadi sangat tinggi), dan (d) kapasitas tukar kation (KTK) meningkat dari 12,60 menjadi 22,60 cmol kg-1 atau berubah dari kriteria rendah menjadi sedang. Tinggi tanaman dari 14 HST sampai dengan 42 HST akibat pemberian SP-36 dan kompos memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan bahan amelioran lainnya. Serapan hara N juga mengalami peningkatan dari 1,89 menjadi 6,16% (dari kriteria sangat rendah menjadi sangat tinggi), serapan P tanaman meningkat dari 0,18 menjadi 0,45% (dari kriteria rendah menjadi tinggi), dan serapan K meningkat dari 1,02 - 1,53% atau meningkat dari kriteria sangat rendah menjadi rendah. Pada tanah dari Andisols Saree dan Inceptisols Cucum, dosis dan jenis amelioran yang memberikan pengaruh terbaik terdapat pada perlakuan SP-36 dosis 2 - 4 ton per hektar, sedangkan pada Utisols Jantho diperoleh pada pemberian amelioran jenis Biochar dosis 20 ton per hektar. Hasil percobaan juga memperlihatkan bahwa bahan amelioran jenis kapur CaCO3, dan kompos belum memberikan perbedaan yang nyata terhadap sifat-sifat kimia tanah, pertumbuhan tanaman dan serapan hara N, P, dan K jika dibandingkan dengan perlakuan tanpa amelioran (kontrol) sehingga perlu kajian lebih lanjut terhadap waktu aplikasi dan dosis pemberian yang tepat.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK