PRAKTIK SOSIAL KULINER TRADISIONAL ACEH (STUDI KASUS PADA UKM LAMPISANG KECAMATAN PEUKAN BADA ACEH BESAR) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PRAKTIK SOSIAL KULINER TRADISIONAL ACEH (STUDI KASUS PADA UKM LAMPISANG KECAMATAN PEUKAN BADA ACEH BESAR)


Pengarang

SITI HANUM ADNAN AB - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1610101010026

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2020

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)


ABSTRAK
Penelitian ini untuk mengetahui praktik sosial kuliner tradisional Aceh pada UKM
di Gampong Lampisang Kecamatan Peukan Bada. Praktik sosial ini dilihat dari
habitus, modal dan arena yang di lalui oleh pedagang dalam membuat kuliner
tradisional Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan studi
kasus dengan metode pengumpulan data secara etnografi. Pemilihan informan
dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, sedangkan untuk
menganalisis data, menggunakan model analisis data Miles dan Huberman. Teori
yang digunakan adalah teori praktik sosial Pierre Bourdieu dalam melihat habitus,
modal, dan arena pada informan penelitian yaitu pedagang kue khas Aceh di
Lampisang. Praktik sosial kuliner tradisional Aceh sesuai dengan sejarah dari
habitus dan modal pedagang miliki. Habitus pedagang dalam membuat kuliner
tradisional Aceh dihasilkan oleh proses pembelajaran, internalisasi nilai dan
norma, serta kebiasaan secara turun temurun. Adapun modal budaya yang dimiliki
merupakan pengetahuan dan keahlian dalam membuat kuliner tradisional Aceh,
sedangkan modal ekonomi nya berupa alat-alat produksi yang menunjang
produksi kuliner tradisional Aceh. Selain itu pedagang kuliner tradisional Aceh di
Lampisang juga memiki jaringan sosial yang terbatas dalam kerja sama dengan
keluarga dan masyarakat sekitar. Jaringan sosial ini berdasarkan sistem
kepercayaan dan kekerabatan. Penulis juga melihat Ukm kuliner tradisional Aceh
yang dimiliki oleh pedagang tidak mempunyai pengakuan secara resmi baik dari
gelar dan sertifikat Oleh karena itu sulit untuk melakukan dominasi dalam sebuah
arena produksi kultural.
Kata Kunci: Habitus, Modal, Arena, Kuliner Tradisional Aceh




ABSTRACT
This study is to determine the social practices of traditional Aceh culinary in
UKM in Lampisang Village, Peukan Bada District. This social practice is seen
from the habitus, capital and arena in which traders make traditional Acehnese
culinary. This study used a qualitative method, a case study approach, with
ethnographic data collection methods. The selection of informants in this study
used purposive sampling method, while to analyze the data, Miles and
Huberman's data analysis model was used. The theory used is Pierre Bourdieu's
theory of social practice in seeing the habitus, capital and arena of the research
informants, namely the Acehnese cake trader in Lampisang. Aceh's traditional
culinary social practices are in accordance with the history of the habitus and
merchant capital. Trader habits in making traditional Acehnese culinary are
produced by the learning process, internalization of values and norms, as well as
traditions from generation to generation. The cultural capital that is owned is
knowledge and expertise in making Acehnese traditional culinary, while the
economic capital is in the form of production tools that support the production of
traditional Acehnese culinary. In addition, traditional Aceh culinary traders in
Lampisang also have limited social networks in cooperation with their families
and local communities. This social network is based on a belief system and
kinship. The author also sees that traditional Acehnese culinary SMEs that are
owned by traders do not have official recognition both from titles and certificates.
Therefore, it is difficult to dominate in an arena of cultural production.
Keywords: Habitus, Capital, Arena, Aceh Traditional Culinary




Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK