ANALISIS PASAR MINYAK NILAM MELALUI PENDEKATAN STRUCTURE, CONDUCT DAN PERFORMANCE (SCP) DI KABUPATEN ACEH JAYA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

ANALISIS PASAR MINYAK NILAM MELALUI PENDEKATAN STRUCTURE, CONDUCT DAN PERFORMANCE (SCP) DI KABUPATEN ACEH JAYA


Pengarang

Adinda Gusti Vonna - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1609200240015

Fakultas & Prodi

Fakultas / / PDDIKTI :

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2020

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Sektor pertanian terus mengalami penurunan peran dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 1977, persentase peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia adalah 31,1 persen. Peran sektor pertanian menjadi 23,33 persen pada tahun 1987.
Nilam Aceh yang dalam bahasa latin dikenal dengan Pogostemon Cablin Benth merupakan salah satu dari sembilan komoditi unggulan Aceh. Secara geografis dan agronomis, nilam sangat potensial ditanam di Wilayah Barat dan Selatan Aceh. Kawasan ini memiliki keunggulan komparatif untuk budidaya nilam, sehingga kualitas nilam Aceh pun diakui di dunia.Nilam Aceh dapat menghasilkan minyak nilam (Patchouli Oil) dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30%. Kandungan pengotor pada minyak nilam Aceh lebih rendah dari minyak nilam Jawa sehingga menimbulkan aroma yang lebih soft dan unik. Hal ini menyebabkan minyak nilam Aceh juga menjadi sangat dibutuhkan sebagai bahan blending minyak nilam daerah lainnya di Indonesia. Keunikan nilam Aceh telah mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis (IG) dari Depkumham RI.
Peningkatan produksi dan permintaan yang ditunjukan oleh kenaikan permintaan dalam negeri ataupun ekspor belum menjamin terjadinya peningkatan pendapatan petani yang proporsional.Permintaan terhadap nilam Aceh sangat tinggi, secara teori hal ini dapat memberikan motivasi petani nilam untuk meningkatkan kapasitas produksi nilam. Hara yang ditawarkan oleh pembeli juga stabil ditingkat ekspor. Harga merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi pendapatan. Oleh sebab itu faktor ini juga dapat mempengaruhi produksi, karena secara langsung orang-orang bekerja atau ikut serta melakukan proses produksi adalah untuk mendapatkan pendapatan. Pada gambar 1 di bawah dapat dilihat bahwa harga minyak nilam ditingkat ekspor relatif stabil meskipun terjadi kenaikan atau penurunan namun sepertinya tidak begitu berdampak besar pada nilai ekspor nilam. Hal ini terlihat dari grafik nilai ekspor yang cenderung meningkat.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui struktur, perilaku dan kunerja pasar nilam di Aceh Jaya (2) Mengetahui strategi yang paling tepat dalam memkasimalkan efesiensi pemasaran.
Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sedangkan jenis data yang digunakan adalah data observasi dan wawancara dengan merancang beberapa pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Data diperoleh dari data primer dan data sekunder, yang kemudian dapat di analisis dengan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
Kesimpulan Kondisi sistem pemasaran minyak nilam kabupaten Aceh Jaya belum berjalan efisien. Hal ini terlihat dari struktur pasar minyak nilam kabupaten Aceh Jaya di tingkat petani bersifat cenderung Monopoli dengan hasil analisis CR4 > 80%. Kondisi pasar di tingkat eksportir yang terkonsentrasi dan adanya hambatan masuk pasar menyebabkan perusahaan (eksportir) memiliki peran dominan dalam proses penentuan harga. Kondisi ini akan mempengaruhi perilaku lembaga pemasaran di tingkat lebih rendah yaitu koperasi, kolektor dan petani. Pada aktivitas pemasaran, adanya ikatan permodalan yang dilakukan petani dengan kolektor menyebabkan petani terbatas dalam memperoleh informasi harga dan terbatasnya alternatif saluran pemasaran. Seluruh petani pada setiap saluran pemasaran selalu menyalurkan produk minyak nilam mereka melalui kolektor. Kondisi ini menyebabkan posisi tawar (bargaining position) petani semakin lemah dalam proses penentuan harga dan petani cenderung sebagai penerima harga (price taker). Analisis kinerja pasar menunjukkan bahwa share harga minyak nilam yang diterima petani masih rendah (? 30%). Hal ini disebabkan oleh terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki petani dan rendahnya nilai tambah (value added) yang dilakukan

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK