Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STUDI KASUS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI NOMOR:27/PID- TIPIKOR/2012/PT-BNA TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI
Pengarang
RIZKI SEPTIMAULINA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1003101010044
Fakultas & Prodi
Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Hukum., 2014
Bahasa
Indonesia
No Classification
345.023 23
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Putusan Nomor: 27/Pid-Tipikor/2012/PT-BNA Jaksa Penuntut Umum menjerat terdakwa dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam persidangan, pembuktian tindak pidana korupsi ini Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi mahkota yang mana ikut terlibat didalam tindak pidana korupsi bersama dengan terdakwa, Eksitensi saksi mahkota dan nilai pembuktiannya telah bertentangan dengan hak-hak terdakwa. Penerapan sistem pembebanan pembuktian belum efektif diterapkan oleh hakim dalam proses pembuktian. Hakim dalam putusannya telah mengenyampingkan CD (Compact Disc) dan transkrip suarasebagai alat bukti yang sah menurut hukum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Penulisan studi kasus bertujuan untuk menjelaskan eksistensi daripada saksi mahkota dan nilai pembuktiannya dalam Undang- Undang Tindak Pidana Korupsi,efektifitas penerapan sistem pembebanan pembuktian, dan alat bukti CD (Compact Disc) elektronik yang diajukan dalam persidangan sebagai alat bukti yang sah. Metode penelitian yang digunakan adalah normatif (kepustakaan), yaitu dilakukan dengan mengkaji atau menganilisis data sekunder berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku, mencakup Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, KUHAP, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Putusan Pengadilan, buku-buku, dsb.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi saksi mahkota dalam perkembangannya, diajukan sebagai alat bukti dalam perkara pidana tidak dibolehkan dengan pertimbangan karena bertentangan dengan hak asasi terdakwa, sebagaimana diatur dalam ketentuan KUHAP sebagai instrumen hukum nasional dan ICCPR (International Covenant On Civil Political Rights) atau Konvensi Hak-Hak Sipil dan Politik sebagai instrumen hak asasi manusia internasional. Dalam hal pembuktian terbalik dalam proses peradilannya belum diterapkan seefisien dan seefektif. Semenjak Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik berlaku terdapat penambahan macam alat bukti, dan diakuinya dokumen elektronik sebagai alat bukti yang sah,.
Hakim sebaiknya dalam memutus perkara agar sesuai dengan perkembangan hukum yang berlaku saat ini, Jadi hukum dapat mewujudkan tujuannya dan mencerminkan nilai keadilan, kemanfaatan, serta kepastian hukum.
Tidak Tersedia Deskripsi
STUDI KASUS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI POSO RNNOMOR: 91/PID.SUS/2011/PN.PSO RNTENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI (Cut Rizky Febrina, 2015)
PENERAPAN PEMBUKTIAN TERBALIK (OMKERING VAN BEWISJLAST) TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI (ALFATIH RIZKHA, 2021)
PENERAPAN PEMBUKTIAN TERBALIK (OMKERING VAN BEWISJLAST) TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI (ALFATIH RIZKHA, 2021)
STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR: 17/PID.SUS-TPK/2014/PN.BNA DAN PUTUSAN NOMOR: 38/PID.SUS-TPK/2014/PN.BNA TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI (HIDAYATULLAH, 2016)
EKSISTENSI TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAI TINDAK PIDANA KHUSUS SETELAH LAHIRNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2023 TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (SAYED NAFIZ MUAMMAR, 2025)