DINAMIKA MEMAAFKAN (FORGIVENESS) PEREMPUAN KORBAN PERKOSAAN PADA MASA KONFLIK (DAERAH OPERASI MILITER) DI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

DINAMIKA MEMAAFKAN (FORGIVENESS) PEREMPUAN KORBAN PERKOSAAN PADA MASA KONFLIK (DAERAH OPERASI MILITER) DI ACEH


Pengarang

YUANDINI ARIEFKA - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0707101130009

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Psikologi (S1) / PDDIKTI : 73201

Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala.,

Bahasa

Indonesia

No Classification

155.92

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Konflik yang berkepanjangan di Aceh memunculkan korban-korban pelanggaran HAM. Salah satunya adalah perempuan korban perkosaan Dampak yang dialami oleh perempuan korban perkosaan berupa dampak fisik, dampak sosial dan juga dampak psikologis. Hal ini menyebabkan muculnya konflik pada dirinya, masalah psikologis dan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menyelesaikan konflik dalam diri adalah dengan adanya kesediaan untuk memberi maaf (forgive) agar menjadi pribadi yang sehat secara psikologis dan terbebas dari kemarahan dan rasa bersalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika memaafkan (forgiveness) perempuan korban perkosaan pada masa konflik (daerah operasi militer) di Aceh. Subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang perempuan korban perkosaan Lokasi penelitian ini di Bireuen dan Pidie Jaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian dilakukan kurang lebih selama enam bulan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk mengetahui dinamika memaafkan (forgiveness) perempuan korban perkosaan pada masa konflik di Aceh .Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua responden tidak menunjukkan adanya pemaafan (forgiveness) Kedua responden masih berada pada tahap uncovering phase dalam proses memaafkan (forgiveness) yaitu tahap dimana subjek masih dipenuhi rasa marah, sakit hati dan dendam terhadap pelaku. Tidak terjadinya pemaafan (forgiveness) juga didukung oleh beberapa faktor yaitu faktor anak, faktor hubungan intim dengan suami bagi subjek yang menikah, faktor beratnya peristiwa perkosaan yang dialami, faktor pengalaman menyedihkan dalam hidup, faktor interaksi antara pelaku dan subjek serta faktor pengalaman subjek selama masa konflik


keywords : memaafkan (forgivenesos), perkosaan, daerah operat milter
















Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK