<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="77154">
 <titleInfo>
  <title>DINAMIKA MEMAAFKAN (FORGIVENESS) PEREMPUAN KORBAN PERKOSAAN PADA MASA KONFLIK (DAERAH OPERASI MILITER) DI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>YUANDINI ARIEFKA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Konflik yang berkepanjangan di Aceh memunculkan korban-korban pelanggaran  HAM. Salah satunya adalah perempuan korban perkosaan  Dampak yang dialami oleh perempuan korban perkosaan berupa dampak fisik, dampak sosial  dan juga dampak psikologis.  Hal ini menyebabkan muculnya konflik pada dirinya, masalah psikologis  dan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menyelesaikan konflik dalam diri adalah dengan adanya kesediaan untuk memberi maaf (forgive)  agar menjadi pribadi  yang sehat secara psikologis dan terbebas dari kemarahan dan rasa bersalah. Penelitian  ini bertujuan  untuk mengetahui dinamika memaafkan (forgiveness) perempuan korban perkosaan pada masa konflik (daerah operasi  militer) di Aceh.   Subjek dalam penelitian  ini berjumlah dua orang perempuan korban perkosaan  Lokasi  penelitian ini  di  Bireuen dan Pidie Jaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.  Penelitian dilakukan kurang lebih  selama enam bulan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk  mengetahui  dinamika memaafkan  (forgiveness)  perempuan korban perkosaan pada masa konflik di Aceh .Hasil  penelitian ini menunjukkan bahwa kedua  responden tidak  menunjukkan adanya pemaafan (forgiveness)   Kedua  responden  masih  berada pada  tahap  uncovering phase   dalam proses memaafkan (forgiveness) yaitu tahap dimana subjek masih dipenuhi rasa marah, sakit hati dan  dendam  terhadap  pelaku.    Tidak  terjadinya  pemaafan  (forgiveness) juga  didukung  oleh beberapa faktor yaitu faktor anak, faktor hubungan intim dengan suami bagi subjek yang menikah, faktor beratnya peristiwa perkosaan yang dialami,  faktor  pengalaman  menyedihkan dalam  hidup, faktor interaksi antara pelaku dan subjek serta faktor pengalaman subjek selama masa konflik&#13;
&#13;
&#13;
keywords : memaafkan (forgivenesos), perkosaan, daerah operat milter&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>FORGIVENESS - PSYCHOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>155.92</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>77154</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-09-10 11:34:19</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-21 15:26:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>