PENILAIAN KERENTANAN BANGUNAN AKIBAT GEMPA: STUDI KASUS BANGUNAN TEMPAT TINGGAL DI KABUPATEN BENER MERIAH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PENILAIAN KERENTANAN BANGUNAN AKIBAT GEMPA: STUDI KASUS BANGUNAN TEMPAT TINGGAL DI KABUPATEN BENER MERIAH


Pengarang

Thifal Ufairah - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1604101010049

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2020

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Gempa bumi pada tanggal 2 Juli 2013 yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini. Gempa tektonik berkekuatan 6,1 Mw menyebabkan kerusakan fisik dan kerugian terhadap konstruksi bangunan tempat tinggal. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengevaluasi kerentanan bangunan tempat tinggal, yaitu dengan pengembangan kurva kerapuhan (fragility curve). Pengembangan kurva kerapuhan untuk bangunan tipikal yang ada di Indonesia khususnya Aceh, Kabupaten Bener Meriah untuk saat ini belum ada. Kurva kerapuhan dapat dibentuk dengan metode empiris berbasis penilaian ahli (expert judgement) yang memperlihatkan seberapa besar tingkat probabilitas kerusakan pada bangunan tempat tinggal di Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini menggunakan data sekunder pada 115 desa untuk diidentifikasi tingkat kerusakan ringan, sedang dan berat terhadap tipe bangunan dengan struktur kayu, tembokan, dan beton bertulang. Dengan rentang nilai PGA antara 0,0 g hingga 0,13 g didapatkan peluang kerusakan bangunan dengan struktur kayu sebesar 77% pada rusak ringan, 38% pada rusak sedang dan 30% pada rusak berat. Peluang kerusakan untuk struktur tembokan sebesar 24% pada rusak ringan, 20% pada rusak sedang dan 18% pada rusak berat. Sedangkan peluang kerusakan dengan struktur beton bertulang sebesar 83% pada rusak ringan, 78% pada rusak sedang, dan 67% pada rusak berat. Hasil dari nilai persentase kerapuhan didapatkan bahwa bangunan struktur beton bertulang memiliki kerentanan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bangunan struktur kayu dan tembokan, sehingga lebih berpotensi roboh jika gempa besar terjadi. Hasil analisis penilaian kerugian wilayah Kabupaten Bener Meriah yang ditimbulkan akibat gempa berdasarkan asumsi untuk 2.277 unit bangunan tempat tinggal dengan tipe 45 m2 diperoleh sebesar Rp.1.139.855.317.040,00.

Kata kunci: Gempa, Bener Meriah, Kurva Kerapuhan, Kerentanan, Tingkat Kerusakan, Penilaian Kerugian

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK