PRARANCANGAN PABRIK TANNIN DARI BIJI PINANG DENGAN KAPASITAS BAHAN BAKU 15.000 TON/TAHUN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PRARANCANGAN PABRIK TANNIN DARI BIJI PINANG DENGAN KAPASITAS BAHAN BAKU 15.000 TON/TAHUN


Pengarang

Ikmalul Rahmi Oktia - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0704103010021

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Kimia (S1) / PDDIKTI : 24201

Subject
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2014

Bahasa

Indonesia

No Classification

660.280

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK

Prarancangan pabrik tannin dengan menggunakan biji pinang sebagai bahan baku. Proses produksi secara keseluruhan menggunakan proses ekstraksi. Bahan-bahan baku dicampur di dalam ekstraktor kemudian dipisahkan di dalam evaporator dengan kondisi operasi adalah 85 oC dan tekanan 1 atm. Tanin yang dihasilkan berupa serbuk dengan ukuran 200 mesh. Kebutuhan bahan baku pabrik tannin ini adalah 15.000 ton pertahun dengan hari kerja 330 hari pertahun. Bentuk perusahaan yang direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan menggunakan metode struktur organisasi garis dan staf. Kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankan perusahaan ini berjumlah 150 orang. Lokasi pabrik direncanakan didirikan di Desa Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, dengan luas tanah 16.260 m2. Sumber air untuk pabrik tannin ini berasal dari Sungai Krueng Peusangan.
Ekstraksi adalah mencabut atau mengeluarkan sesuatu zat dari campuran zat dengan jalan penambahan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang akan di ekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Zat yang lain dalam campuran, praktis boleh dikatakan tak dapat larut di dalamnya.
Proses ekstraksi tannin dari biji pinang juga telah dilakukan oleh Tampubolon, dengan menggunakan pelarut air dan etanol 96%. Data yang diperoleh untuk pelarut etanol 96% diperoleh kadar tannin 26,6% dengan suhu divariasikan dari 40,50, dan 60oC dan waktu yang diperlukan juga divariasikan. Sedangkan untuk pelarut air tannin yang dihasilkan relatif mudah berjamur karena adanya kandungan air yang cukup tinggi dalam produk. Ukuran buah pinang mempengaruhi kadar tannin buah pinang, makin besar buah pinang makin tinggi kadar ekstrak dan tannin.
Hasil analisa ekonomi yang yang diperoleh adalah sebagai berikut :
a. Fixed Capital Investment = Rp. 144.433.953.291
b. Working Capital Investment = Rp 25.488.344.698
c. Total Capital Investment = Rp. 169.922.297.989
d. Total Biaya Produksi = Rp. 209.337.536.942
e. Hasil Penjualan = Rp 296.842.867.200
f. Laba Bersih = Rp. 65.628.997.694
g. Internal Rate of Return (IRR) = 40,32 %
Berdasarkan studi kelayakan teknis dan ekonomis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prarancangan pabrik tannin ini layak untuk dilanjutkan ke tahap rancangan.
ABSTRAK

Prarancangan pabrik tannin dengan menggunakan biji pinang sebagai bahan baku. Proses produksi secara keseluruhan menggunakan proses ekstraksi. Bahan-bahan baku dicampur di dalam ekstraktor kemudian dipisahkan di dalam evaporator dengan kondisi operasi adalah 85 oC dan tekanan 1 atm. Tanin yang dihasilkan berupa serbuk dengan ukuran 200 mesh. Kebutuhan bahan baku pabrik tannin ini adalah 15.000 ton pertahun dengan hari kerja 330 hari pertahun. Bentuk perusahaan yang direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan menggunakan metode struktur organisasi garis dan staf. Kebutuhan tenaga kerja untuk menjalankan perusahaan ini berjumlah 150 orang. Lokasi pabrik direncanakan didirikan di Desa Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, dengan luas tanah 16.260 m2. Sumber air untuk pabrik tannin ini berasal dari Sungai Krueng Peusangan.
Ekstraksi adalah mencabut atau mengeluarkan sesuatu zat dari campuran zat dengan jalan penambahan bahan ekstraksi tepat pada waktunya. Hanya zat yang akan di ekstrak yang dapat larut dalam bahan ekstraksi. Zat yang lain dalam campuran, praktis boleh dikatakan tak dapat larut di dalamnya.
Proses ekstraksi tannin dari biji pinang juga telah dilakukan oleh Tampubolon, dengan menggunakan pelarut air dan etanol 96%. Data yang diperoleh untuk pelarut etanol 96% diperoleh kadar tannin 26,6% dengan suhu divariasikan dari 40,50, dan 60oC dan waktu yang diperlukan juga divariasikan. Sedangkan untuk pelarut air tannin yang dihasilkan relatif mudah berjamur karena adanya kandungan air yang cukup tinggi dalam produk. Ukuran buah pinang mempengaruhi kadar tannin buah pinang, makin besar buah pinang makin tinggi kadar ekstrak dan tannin.
Hasil analisa ekonomi yang yang diperoleh adalah sebagai berikut :
a. Fixed Capital Investment = Rp. 144.433.953.291
b. Working Capital Investment = Rp 25.488.344.698
c. Total Capital Investment = Rp. 169.922.297.989
d. Total Biaya Produksi = Rp. 209.337.536.942
e. Hasil Penjualan = Rp 296.842.867.200
f. Laba Bersih = Rp. 65.628.997.694
g. Internal Rate of Return (IRR) = 40,32 %
Berdasarkan studi kelayakan teknis dan ekonomis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prarancangan pabrik tannin ini layak untuk dilanjutkan ke tahap rancangan.



Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK