PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN WEIGHTED OVERLAY DI KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA LONGSOR MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN WEIGHTED OVERLAY DI KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE


Pengarang

Nurmala Ramadhani Lubis - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1505108010046

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Ilmu Tanah (S1) / PDDIKTI : 54294

Subject
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2020

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Longsor adalah peristiwa ketika material pembentuk lereng yang terdiri dari komposisi batuan dan massa tanah dalam volume yang besar berpindah secara spontan ataupun perlahan. Organisasi bencana alam dunia menyebutkan bencana longsor merupakan salah satu dari tujuh bencana alam paling berbahaya. Bencana tanah longsor sering terjadi pada negara yang memiliki iklim tropis, seperti Indonesia. Salah satu provinsi di Indonesia yang cukup sering mengalami bencana alam tanah longsor adalah Aceh, tepatnya di Kabupaten Pidie Kecamatan Tangse. Bencana longsor dapat diminimalisir jika pengetahuan mengenai daerah yang berpotensi longsor kita ketahui sejak dini untuk dapat dilakukan mitigasi bencana. Oleh sebab itu, untuk mengurangi jumlah korban jiwa maupun material dilakukan penelitian mengenai pemetaan daerah rawan bencana longsor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan mixed method, yaitu metode penelitian yang mengkombinasikan dua metode kualitatif dengan kuantitatif, yakni Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Weighted Overlay. AHP digunakan untuk menentukan dan menganalisis bobot parameter penyebab longsor berdasarkan penilaian pakar. Pembobotan dilakukan dengan menggunakan kuesioner terbuka. Lalu setelah bobot dari masing-masing parameter telah diperoleh, maka dilanjutkan dengan melakukan pengharkatan (scoring) setiap kelas parameter. Sedangkan Weighted Overlay digunakan untuk memetakan sebaran kerawanan dengan menumpangtindihkan peta parameter yang telah ditentukan. Hasil analisis berdasarkan penilaian pakar diperoleh bahwa parameter penyebab longsor terdiri dari lereng dengan bobot 42%, curah hujang sebesar 36%, jenis tanah 12% dan
penggunaan lahan 10%. Bobot tertinggi mengindifikasikan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingakan dengan parameter lainnya. Sebaran kawasan rawan bencana longsor yang dari hasil analisis Weighted Overlay terdiri dari 4 kelas, dimulai dengan kelas tidak rawan dengan luas 0,73% (573,61 ha), agak rawan 38,98% (30.600,38 ha), rawan 59,27% (46.526,72 ha) dan sangat rawan 1,03% (805,40 ha) dari luas total daerah penelitian. Kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat sekitar perlu dilakukan untuk mencegah korban jiwa maupun material akibat dari bencana tanah longsor. Salah satunya dengan melakukan tindakan konservasi diantaranya memodifikasi lereng, mereboisasi kembali daerah berlereng, dan meningkatkan stabilitas lereng.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK