<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="67984">
 <titleInfo>
  <title>PERANCANGAN ACEH CONVENTION AND EXHIBITION CENTRE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rizka Rahma Vytra Mulisa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2020</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Perkembangan industri  MICE (Meeting, Incentive, Confference and Exhibition) telah memberikan warna yang beragam terhadap jenis kegiatan industri jasa yang identic dengan pemberian pelayan/services. MICE merupakan bisnis yang memberikan kontribusi tinggi secara ekonomi terlebih bagi negara berkembang. Kualitas pelayanan yang diberikan mampu memberikan kepuasan kepada setiap peserta, industri MICE mampu memberikan keuntungan yang besar bagi para pelaku usaha di industri tersebut. Potensi bisnis MICE yang semakin berkembang ke arah positif dan sangat menguntungkan bagi industri pariwisata dan daerah membuat Aceh harus turut serta dalam bisnis ini demi meningkatkan perekonomian dan pariwisata Provinsi Aceh. Adanya kegiatan konvensi dan pameran tingkat regional, nasional, dan internasional di Kota Banda Aceh membuat kebutuhan akan gedung konvensi semakin meningkat. Namun karena fasilitas yang tersedia belum memenuhi standar, maka Aceh sering tidak terpilih sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Penerapan konsep bangunan menggunakan gaya arsitektur visionary  oleh Norman Foster dengan ciri khas bangunan yang modern, high tech, monumental dan visioner menjadi pilihan yang diterapkan kepada bangunan dikarenakan memiliki karakteristik bangunan modern yang khas dan berteknologi tinggi yang dirasa sangat sesuai dengan kebutuhan perancangan gedung eksibisi dan konvensi di Kota Banda Aceh. Oleh karena itu, perancangan gedung Aceh Convention and Exhibition Centre ini sangat dibutuhkan guna memfasilitasi kegiatan yang ada serta dapat menambah keuntungan devisa Negara, terutama dalam memenuhi standar fasilitas yang dibutuhkan sehingga Aceh dapat terpilih menjadi Tuan Rumah untuk kegiatan-kegiatan tingkat Nasional dan Internasional.&#13;
&#13;
&#13;
Kata Kunci: Aceh, Convention and Exhibition Centre, kegiatan konvensi	&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>67984</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-01-02 10:45:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-01-02 11:29:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>