Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
PERBEDAAN PERLAKUAN PETUGAS WILAYATUL HISBAH DALAM PENERTIBAN BERPAKAIAN SYAR’I DI JALAN RAYA KOTA BANDA ACEH TERHADAP PENGENDARA RODA DUA DAN RODA EMPAT ( ANALISIS KONSEP SUBALTERN)
Pengarang
DARA RAHMAYANI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1510103010026
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2019
Bahasa
Indonesia
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Kontrol atas pakaian telah dilakukan oleh pemerintah Aceh sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan syariat Islam. Wilayatul Hisbah selaku polisi syariah melakukan pengawasan terhadap pakaian masyarakat Aceh dengan cara penertiban di jalan raya. Fenomena yang terjadi saat melakukan penertiban pakaian petugas Wilayatul Hisbah hanya menertibkan pakaian pengendara roda dua namun tidak dengan pengendara roda empat. Penelitian ini berusaha untuk memperlihatkan bagaimana suatu aturan hanya berlaku bagi sekelompok orang masyarakat. Untuk menganalisis permasalahan tersebut, penelitian menggunakan konsep Subaltern oleh Gayatri Chakravorty Spivak. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data digunakan dengan cara wawancara secara mendalam dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakjelasan aturan telah menyebabkan terciptanya pemahaman yang multitafsir sehingga menghasilkan beberapa konsekuensi yaitu pertama, terciptanya berbagai asumsi oleh pihak penegak hukum syariat Islam dan masyarakat terhadap aturan penertiban pakaian yang dilakukan petugas Wilayatul Hisbah. Kedua, terciptanya mekanisme aturan tentang penertiban pakaian secara sepihak oleh petugas Wilayatul Hisbah sehingga tidak memberikan ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi. Ketiga, bergesernya tujuan Qanun tentang pakaian yang awalnya untuk pelaksanaan syiar Islam menjadi pengontrolan moral perempuan atas pakaian yang digunakannya sebagai cara agar tindak kekerasan seksual tidak terjadi di ruang publik.
Kata kunci: Aturan berpakaian, Wilayatul Hisbah, Subaltern, Pengontrolan moral perempuan.
Tidak Tersedia Deskripsi
UPAYA WILAYATUL HISBAH (WH) KOTA BANDA ACEH DALAM MENINGKATKAN KESADARAN BERSYARIAT ISLAM BAGI REMAJA DI KOTA BANDA ACEH (Rizki Amalia, 2016)
TINJAUAN KAPASITAS PARKIR TERHADAP VOLUME PARKIR PADA JALAN MOHAMMAD JAM KOTA BANDA ACEH. (MACKSALMINA, 2021)
UPAYA WILAYATUL HISBAH MENANGGULANGI PELANGGARAN TIDAK BERBUSANA ISLAMI MELALUI PATROLI RNDI KOTA BANDA ACEH (ANIS SAPUTRA, 2014)
ANALISIS KEBUTUHAN (OFF-STREET DAN ON-STREET PARKING) DI KLINIK SPESIALIS CEMPAKA LIMA BANDA ACEH (Burhanuddin, 2024)
PERAN WILAYATUL HISBAH DALAM MEMBINA KEPRIBADIAN ISLAMI BAGI PELANGGAR NORMA-NORMA AGAMA (SUATU PENELITIAN DI KOTA BANDA ACEH) (Yahnijar, 2014)