<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="65106">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN PENGERINGAN KOPI GAYO SEMI BASAH MENGGUNAKAN ALAT PENGERING TIPE HOHENHEIM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Antoni Hardi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sebagai produsen kopi Arabica, masyarakat Gayo terkendala pada suhu lokal di Aceh Tengah yang relatif dingin dan teknologi sederhana yang digunakan untuk proses pengeringan kopi. Suhu rata-rata harian disini adalah 23-29°C. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik proses pengeringan kopi yang diolah dengan semi basah (semi washed) menggunakan alat pengering tipe terowongan (Hohenheim)&#13;
Penelitian dilakukan di Desa Mah Bengi Kecamatan Bebesan Kabupaten Aceh Tengah. Biji kopi labu diperoleh dari petani yang diolah dengan prosedur semi basah. Setelah disimpan selama 1 hari, biji kopi labu direndam dan dipisahkan dari biji kopi labu yang mengambang isinya kosong, lalu ditimbang dan dimasukkan ke dalam alat pengering Hohenheim. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering tipe Hohenheim, timbangan, termometer, hygrotermometer, moisture tester, dan cawan. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu biji kopi gabah yang diperoleh dari Petani Desa Mah Bengi, Kecamatan Bebesan, Kabupaten Aceh Tengah, yang diolah dengan metode semi basah sebanyak 9kg. Parameter penelitian meliputi suhu pengeringan, kelembaban relatif, kadar air dan rendemen. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan menggunakan alat pengering Hohenheim jauh lebih tinggi sekitar 10-20°C dari suhu pengeringan secara penjemuran, dimana suhu tertinggi selama pengeringan adalah 57oC, suhu terendah sebesar 22oC dan suhu rata-rata adalah 45oC. Proses pengeringan kopi labu sampai bisa digiling membutuhkan waktu selama 12 jam yaitu 8 jam pada hari pertama dan 4 jam pada hari ke-2. Sedangkan proses pengeringan tahap 2 membutuhkan waktu selama 16 jam sampai menghasilkan kopi beras dengan kadar air 9,32%. Kelembaban relatif (RH) dalam ruang pengering masih setara atau lebih tinggi dari kelembaban relatif lingkungan, dimana nilai RH tertinggi sebesar 62%, nilai RH terendah adalah 30% dan nilai rata-rata RH selama pengeringan adalah 45%. Kualitas kopi beras yang dihasilkan sudah baik dengan kadar air  yang sudah memenuhi standar SNI, tidak berbau busuk, dan tidak terkontaminasi. Nilai rendemen kopi beras berbasis kopi labu adalah 35%.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>65106</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-09-27 16:00:12</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-09-27 16:07:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>