PRODUKSI BIOETANOL DARI TEPUNG JANENG (DIOSCOREA HISPIDA DENNTS) DENGAN METODE ENZIMATIK (SEPARATE HYDROLYSIS AND FERMENTATION (SHF) AND SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) MENGGUNAKAN ISOLAT LOKAL | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PRODUKSI BIOETANOL DARI TEPUNG JANENG (DIOSCOREA HISPIDA DENNTS) DENGAN METODE ENZIMATIK (SEPARATE HYDROLYSIS AND FERMENTATION (SHF) AND SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) MENGGUNAKAN ISOLAT LOKAL


Pengarang

IRMAYADANI - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1509200230001

Fakultas & Prodi

Fakultas / / PDDIKTI :

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2019

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Dioscorea hispida adalah tanaman yang kurang pemanfaatan meskipun mengandung karbohidrat tinggi mencapai 70,55 % dan memiliki potensi untuk diaplikasikan penggunaannya diberbagai bidang salah satunya dalam bidang energi seperti bioetanol. Penelitian ini menggunakan tepung D. hispida (janeng) sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol dengan menggunakan teknik Separate Hidrolysis and Fermentation (SHF) dan Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF). Tepung janeng digunakan sebagai sumber karbon untuk produksi enzim dari kapang Aspergillus awamori KT-11 menghasilkan amilase komplek. Aktivitas enzim optimum diperoleh dengan fermentasi pada jam ke 96 yaitu 7,4 U/ml. Enzim kemudian digunakan untuk menghidrolisis tepung janeng menjadi gula reduksi. Rasio yang digunakan pada penelitian ini yaitu 1:6 dan 1:9 (b/v). Gula reduksi optimum dicapai pada jam ke-9 pada kedua perbandingan 1:6 yaitu 0,41±0,002 mg/mL dan 1:9 diperoleh 0,11±0,001 mg/mL, hidrolisat tersebut selanjutnya digunakan untuk fermentasi metode SHF dengan perbedaan sel yeast yaitu 0,1x106 CFU/mL, 0,5x107 CFU/mL dan 3x107 CFU/mL. Hasil kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa secara kualitatif produk gula utama hasil hidrolisis adalah glukosa, yang diikuti maltosa dan fruktosa. Pada metode SSF menggunakan campuran tepung dan larutan enzim menggunakan rasio yang sama, selanjutnya dilakukan fermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae BTCC12 sebagai media fermentasi bioetanol yang dilakukan pada suhu 35°C dan 150 rpm. Hasil analisis HPLC terbaik diperoleh pada sel yeast 3x107 dengan rasio 1:9, yaitu glukosa diperoleh sebesar 30,4 g/L dengan waktu fermentasi selama 6 jam, dan menghasilkan bioetanol sebesar 16,2 g/L yang diperoleh pada jam ke-24 dengan yield yang dihasilkan mencapai 99,5%. Analisis HPLC menunjukkan bahwa yield bioetanol pada metode SHF lebih tinggi dibandingkan dengan metode SSF.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK