<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="65062">
 <titleInfo>
  <title>PROSES TRANSISI POLITIK GERAKAN ACEH MERDEKA MENJADI PARTAI POLITIK LOKAL (STUDI KASUS LAHIRNYA PARTAI NANGGROE ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rudy Aulianda Risky</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Kontestasi Pilgub di Aceh meninggalkan catatan penting dalam proses demokrasi.&#13;
Setelah GAM menyatakan sikap untuk berdamai dengan pemerintah RI melalui &#13;
nota kesepahaman MoU  Helsinki untuk kemudian direalisasikannya butir-butir &#13;
yang tertuang dalam MoU helsinki tersebut sebagai langkah konkrit komitmen &#13;
perjanjian damai oleh pemerintah RI dan GAM. Langkah ini untuk selanjutnya &#13;
diterjemahkan dengan dibentuknya AMM sebagai medium  bagi GAM untuk &#13;
bersalin format menjadi masyarakat sipil. Dari  mulanya  perjuangan berbasis &#13;
senjata berubah menjadi perjuangan berbasis politik elektoral, tentunya hal &#13;
tersebut juga tidak terlepas dari keistimewaan-keistimewaan khusus yang di dapat &#13;
oleh Provinsi Aceh berdasarkan Undang-Undang No 11 tahun 2006 tentang &#13;
Pemerintahan Aceh (UUPA). sebagai legalitas kekuatan hukum nota kesepahaman &#13;
tersebut. Berdasarkan hal tersebut, pemberlakuan pertama kalinya jalur &#13;
independent/perseorangan dalam kontestasi Pemilihan Umum di Indonesia, serta &#13;
hadirnya Partai Politik Lokal yang diakui secara konstitusi yang sebelumnya &#13;
belum pernah ada di Indonesia, hal ini menjadi catatan penting pada proses &#13;
demokratisasi di Indonesia dan Aceh menjadi role modelnya.  Kehadiran  Partai&#13;
Aceh juga menjadi katalisator bagi eks kombatan dalam mewujudkan cita-cita &#13;
politik yang terbentuk pada era konflik. Namun belakangan lahirlah  Partai &#13;
Nanggroe Aceh (PNA) yang juga besutan eks kombatan.  Dan seiring waktu &#13;
terjadi persaingan sengit antara PA  dan PNA.  Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
mengetahui  apa yang mendasari terbentuknya  PNA  dan untuk mengetahui &#13;
Problematika apa yang dihadapi PNA selama proses transisi.  Metode  penelitian &#13;
yang digunakan  adalah  metode  penelitian  kualitatif  dengan  pendekatan  deskriptif.&#13;
Data diperoleh  melalui  sumber data primer dan data skunder, data primer melalui&#13;
penelitian  lapangan  yaitu  dengan  melakukan  wawancara  kepada  informan.&#13;
Sedangkan data sekunder  melalui  penelitian  kepustakaan  yaitu  dengan  dokumen-&#13;
dokumen, buku-buku  dan  bacaan  terkait.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa &#13;
yang mendasari eks GAM membentuk Partai Nanggroe Aceh adalah karena faktor &#13;
ketidakpuasan yang di alami Irwandi dkk. Hal ini di akibatkan karena tidak &#13;
diusungnya Irwandi Yusuf oleh Partai Aceh pada Pilgub 2012 dan  gagalnya &#13;
Irwandi Yusuf pada Pilgub 2012 melalui jalur independen. Kemudian &#13;
problematika yang dihadapi PNA dalam proses transisi adalah karena adanya &#13;
sentimen yang dibangun  di masyarakat  tentang  citra  Irwandi  dan eks GAM yang &#13;
berafiliasi kepada  Irwandi  sebagai  seorang  penghianat,  sehingga berimbas&#13;
menjelang pemilu pertama PNA  pada Pileg 2014  dengan banyak  ditemuinya &#13;
intimidasi fisik dan nonfisik terhadap  kader  PNA. Sehingga PNA dianggap partai &#13;
lokal yang tidak aman untuk dimasuki.&#13;
Kata Kunci : PNA, Transisi, eks GAM, Parlok, Aceh</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>65062</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-09-27 11:29:34</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-09-27 14:06:27</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>