PENERAPAN METODE CLUSTERING SELF-ORGANIZING MAPS (SOM) DALAM ANALISIS KEKERASAN SOSIAL DI INDONESIA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PENERAPAN METODE CLUSTERING SELF-ORGANIZING MAPS (SOM) DALAM ANALISIS KEKERASAN SOSIAL DI INDONESIA


Pengarang

RAFIQA IRWANDI - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1508108010023

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Statistika (S1) / PDDIKTI : 49201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2019

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Analisis cluster bertujuan untuk meminimalkan variasi di dalam data dengan mengelompokkan objek-objek yang memiliki kemiripan karakteristik. Salah satu metode dalam analisis cluster adalah Self-Organizing Maps (SOM) yang memiliki kelebihan dapat memvisualisasikan karakteristik setiap cluster ke dalam topografi dua atau tiga dimensi. Penerapan SOM dalam penelitian ini dilakukan pada data kekerasan di Indonesia dari tahun 1998 sampai tahun 2015 untuk melihat pola dan persebaran kekerasan pada masing-masing provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Data penelitian terdiri atas 10 variabel di antaranya kekerasan dalam penegakan hukum, kriminalitas, KDRT dan tujuh variabel lainnya merupakan bagian dari kekerasan jenis konflik. Hasil dari penelitian ini diperolehnya 3 cluster pada pengelompokan provinsi dimana provinsi yang termasuk dalam cluster 1 adalah Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Utara, provinsi dalam cluster 2 adalah Provinsi Aceh, dan provinsi lainnya termasuk dalam cluster 3. Cluster 1 memiliki insiden kekerasan yang tinggi pada konflik sumber daya (X1), konflik tata kelola pemerintah (X2), konflik identitas(X4), konflik main hakim sendiri (X5), konflik lainnya (X7), kekerasan dalam penegakan hukum (X8), kriminalitas (X9), dan KDRT (X10). Cluster 2 memiliki insiden kekerasan yang tinggi pada kekerasan jenis konflik yaitu konflik pemilihan dan jabatan (X3) dan konflik separatisme (X6). Sementara pada cluster 3 insiden kekerasan tergolong sedang pada konflik pemilihan dan jabatan (X3), konflik identitas (X4), konflik separatisme (X6), dan KDRT (X10). Berdasarkan hasil pengelompokan kabupaten/kota diperoleh bahwa wilayah perkotaan dan sekitarnya cenderung memiliki insiden kekerasan yang tinggi.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK