<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="62014">
 <titleInfo>
  <title>KEWENANGAN MENETAPKAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Runi Yasir</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>i&#13;
 &#13;
ABSTRAK&#13;
&#13;
 &#13;
KEWENANGAN MENETAPKAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA&#13;
DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI  &#13;
&#13;
Oleh :  &#13;
&#13;
Runi Yasir&#13;
*&#13;
)&#13;
Faisal&#13;
&#13;
Mohd. Din&#13;
??&#13;
 ???&#13;
&#13;
 &#13;
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun&#13;
2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa “kerugian&#13;
negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang yang nyata dan&#13;
pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun&#13;
lalai”. Kerugian negara merupakan syarat mutlak untuk terpenuhinya unsur&#13;
“merugikan keuangan negara atau perekonomian negara” yang terdapat dalam&#13;
ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang&#13;
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang&#13;
&#13;
Nomor 20 Tahun 2001. Kerugian negara yang nyata dan pasti jumlahnya&#13;
harus dihitung dan ditetapkan agar dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,&#13;
melalui ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006&#13;
tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), BPK menilai dan/atau menetapkan&#13;
jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum baik&#13;
sengaja maupun lalai yang dilakukan oleh bendahara, pengelola BUMN/BUMD,&#13;
dan lembaga atau badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan&#13;
negara. Dilihat dari hal tersebut BPK seyogyanya menjadi lembaga/badan tunggal&#13;
yang dapat menetapkan kerugian keuangan yang dialami oleh negara dengan&#13;
melakukan perhitungan/audit kerugian negara, berdasarkan Putusan Pengadilan&#13;
Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Banda Aceh Nomor :&#13;
16/PID.SUS-TPK/2015/PN.BNA&#13;
&#13;
dan Putusan Nomor :&#13;
23/PID.SUS/TPK/2017/PN.BNA terdapat penafsiran berbeda oleh hakim&#13;
mengenai penetapan kerugian keuangan negara dengan memakai hasil&#13;
perhitungan/audit yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan&#13;
Pembangunan (BPKP).&#13;
 &#13;
Tujuan penulisan tesis ini untuk mengetahui dan menjelaskan apakah BPK&#13;
dan BPKP mempunyai tugas dan wewenang yang sama dalam menetapkan&#13;
kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana korupsi dan bagaimana&#13;
pertimbangan hakim terhadap putusan pengadilan tindak pidana korupsi tersebut.  &#13;
Penulisan tesis ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan, dan pendekatan&#13;
yang digunakan adalah yuridis normatif, yaitu dengan mengacu kepada norma-&#13;
                                                           &#13;
*&#13;
    Mahasiswa &#13;
??&#13;
   Ketua Komisi Pembimbing &#13;
???&#13;
  Anggota Komisi Pembimbing &#13;
norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang relevan dengan&#13;
permasalahan yang diteliti sebagai pijakan normatif.  &#13;
Bardasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tugas dan kewenangan dari&#13;
BPK dan BPKP terdapat persamaan dan perbedaan yang mendasar, secara&#13;
persamaan adalah sama-sama memilki tugas dan kewenangan dalam melakukan&#13;
perhitungan kerugian keuangan negara, dari segi perbedaannya lembaga BPK&#13;
memiliki tugas dan kewenangan secara konstitusional maupun secara undangundang&#13;
untuk menetapkan&#13;
adanya&#13;
kerugian&#13;
keuangan&#13;
negara&#13;
dalam&#13;
perkara&#13;
tindak&#13;
pidana&#13;
&#13;
korupsi, sedangkan lembaga BPKP tidak memiliki kewenangan dalam&#13;
menetapkan adanya kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana&#13;
korupsi. Selanjutnya dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi khususnya&#13;
yang berkaitan dengan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada&#13;
Pengadilan Negeri Banda Aceh Nomor : 16/Pid.Sus-TPK/2015/PN.BNA, majelis&#13;
hakim dalam pertimbangan hukumnya menggunakan hasil perhitungan dari BPKP&#13;
sedangkan pada Putusan Nomor : 23/PID.SUS/TPK/2017/PN.BNA yang &#13;
menggunakan hasil perhitungan dari BPK, majelis hakim dalam pertimbangan &#13;
hukumnya hanya menggunakan hasil penetapan kerugian keuangan negara&#13;
berdasarkan fakta dan bukti dipersidangan, meskipun yang dijadikan dasar&#13;
perhitungan menggunakan dari BPK. &#13;
Disarankan agar adanya kepastian hukum lembaga yang bertugas dan&#13;
berwenang menetapkan kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana&#13;
korupsi, maka perlu disebut secara jelas dalam undang-undang yang mengatur&#13;
mengenai penanganan tindak pidana kurupsi, yang menjadi pedoman bagi&#13;
penegak hukum. Selanjutnya agar Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana&#13;
Korupsi pada Pengadilan Negeri Banda Aceh mempertimbangkan ketentuan&#13;
undang-undang dasar dan peraturan perundang-undangan lainnya terhadap&#13;
pemenuhan unsur “merugikan keuangan negara atau perekonomian negara” yang&#13;
terdapat dalam ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun&#13;
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah&#13;
dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dengan kedepannya berpedoman&#13;
kepada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2016 tentang&#13;
Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2016&#13;
Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas bagi Pengadilan, sehingga peran BPK harus&#13;
dipertegas kembali dalam lingkungan Mahkamah Agung sebagai dasar utama &#13;
penetapan kerugian keuangan negara yang secara konstitusional memiliki &#13;
kewenangan menetapkan kerugian keuangan negara.&#13;
&#13;
Kata Kunci ; Kewenangan, Menetapkan, Kerugian Keuangan Negara &#13;
ii&#13;
 &#13;
AUTHORITY IN DETERMINING STATE’S FINANCE LOSS IN&#13;
CORRUPTION CASES &#13;
iii&#13;
 &#13;
&#13;
Oleh :  &#13;
&#13;
Runi Yasir&#13;
*&#13;
)&#13;
Faisal&#13;
&#13;
Mohd. Din&#13;
??&#13;
 ???&#13;
&#13;
 &#13;
ABSTRACT&#13;
 &#13;
Based on Article 1 point 22 of the Act Number 1, 2004 on State Treasury&#13;
states that “state/region loss is lack of money, obligations, and real things is&#13;
absolutely a violation of law either intentionally or reckless”. A state loss is an&#13;
absolute requirement to fulfill the elements “making state loss its money or its&#13;
finance” which is ruled in Article 2 and Article 3 of the Act Number 31, 1999 on&#13;
Corruption Suppression as has been changed with the Act Number 20, 2001. State&#13;
loss in which its amount is real and absolute must be counted and determined to&#13;
be responsible legally, through Article 10 point (1) of the Act Number 15, 2006 on&#13;
the Board of Finance Monitor (BPK), the body reviews and/or determines the&#13;
amount of the state loss a violation of law either intentionally or reckless&#13;
committed by treasures, State Enterprise/Regional Enterprises Managers, and&#13;
institution or other bodies who run the state finance management. Based on the&#13;
fact above, BPK ideally is to be an institution/a single body that can determines&#13;
the amount of the state loss by counting/auditing the state loss, Based on the&#13;
Decision of the Court of the Corruption Suppression at the First Instance Court of&#13;
Banda Aceh Number: 16/PID.SUS-TPK/2015/PN.BNA and the Decision Number:&#13;
23/PID.SUS/TPK/2017/PN.BNA there are different interpretation of judges&#13;
regarding the determination of the state loss by referring to the counting/auditing&#13;
which is done by the Monitoring Body OF Finance and Development (BPKP). &#13;
This research aims to  know and explore whether BPK and BPKP has duty&#13;
and authority which is similar in determining the state loss in the case of&#13;
corruption and how is the court of the Corruption Suppression in regards with the&#13;
decision. &#13;
This is a library research, and juridical normative approach is applied, that&#13;
is referring to relevant legal norms and legislations with the problems research as&#13;
a normative standing. &#13;
The research shows that the duly and authority of BPK and BPKP&#13;
common and different in some basic aspects, it is similar in regard with duty and&#13;
authority in determining the amount of the finance loss of the state, however,&#13;
Unlike BPKP, BPK has duty and authority constitutionally or based on the laws&#13;
to state or confirm the loss of the state finance in the case of corruption. BPKP &#13;
                                                           &#13;
*&#13;
   Postgraduate Student &#13;
??&#13;
   The Head of Supervision Commission &#13;
???&#13;
  The Member of Commission &#13;
has no such authority in determining the finance loss of the state in the corruption&#13;
case. in addition in handling the case of the corruption suppression especially in&#13;
regard with the Court of Corruption Decision at the First Instance court of Banda&#13;
Aceh Number: 16/Pid.Sus-TPK/2015/PN.BNA, the Judges in their decisions is&#13;
referring to the BPKP but at the Decision Number:&#13;
23/PID.SUS/TPK/2017/PN.BNA is using the result from the BPK, the judges in its&#13;
consideration is only used the determination of the state loss based on the facts&#13;
and evidences before the court despite the fact that the BPK’s result is used before&#13;
the trial. &#13;
&#13;
It is recommended that there should be law certainty of the institution &#13;
having the duty and authority to determine the finance loss of the state in the&#13;
corruption case, hence it should be clearly mentioned in the Act regulating the&#13;
settlement of the corruption which is becoming the guidance for law enforcers. In&#13;
addition, the Judge Board of the Corruption Court of the first Instance Court of&#13;
Corruption in Banda Aceh should consider the Constitution and the Legislations&#13;
that are relevant in regard with the fulfillment of the elements “making state’s&#13;
finance and economy loss” which is ruled in Articles 2 and 3 of the Act Number&#13;
31, 1999 on the Corruption Suppression as has been changed with the Act&#13;
Number 20, 2001 by referring to the Supreme court Directive Number 4, 2016 on&#13;
the Implementation of the Last Meeting Decision Guides of  the Supreme Court&#13;
Room 2016 as the Guidance of Court Duty Implementation, hence the roles of the&#13;
BPK must be reinstated in the Supreme Court  as the main reference in&#13;
determining the finance loss of the state which is constitutionally having the&#13;
authority to determining the matter.&#13;
&#13;
Key words; Authority, Determining, State’s Finance Loss &#13;
iv&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>62014</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-08-29 16:17:26</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-08-30 10:48:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>