<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="61802">
 <titleInfo>
  <title>ROTASI DATA 2 DIMENSI IMPEDANSI TENSOR MAGNETOTELLURIK UNTUK PENENTUAN GEOELECTRICAL STRIKE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Chintya Putrianda</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Inversi 2D dianggap sebagai metode interpretasi data magnetotellurik tercepat, termurah dan dapat diandalkan. Pada medium 2D, nilai resistivitas bervariasi terhadap kedalaman (z) dan salah satu dari jarak x dan y. oleh karena itu, untuk melakukan inversi 2D data magnetotellurik terlebih dahulu perlu diketahui sifat geoelectrical strike. Geoelectrical strike dapat diketahui dengan melakukan rotasi pada data 2D impedansi magnetotellurik. Maka telah dilakukan penelitian rotasi data 2D tensor magnetotellurik untuk penentuan sifat geoelectrical strike. Data magnetotellurik yang digunakan pada penelitian ini merupakan data sintetik, dimana data tersebut mempresentasikan bawah permukaan dengan bentuk graben pada kedalaman relatif dangkal. Data terdiri dari 25 stasius dan frekuensi yang digunakan dengan rentang 40 sampai 265 Hz. Sebelum dilakukan inversi, data dirotasi sehingga diperoleh data yang sama dan menyimpang dari sifat geoelectrical strike. Selanjutnya dilakukan inversi 2D menggunakan program inversi REBOCC (Reduced Basic OCCam). Setiap proses inversi menggunakan tiga model data yaitu data mode TE, data mode TM dan data mode TE&amp;TM. Hasil inversi 2D data magnetotellurik menunjukkan model dengan sudut rotasi sama dengan geoelectrical strike dan model dengan sudut rotasi yang menyimpang dari geoelectrical strike. Model yang sama dengan geoelectrical strike memiliki panjang graben sebesar 200 m. sedangkan model yang menyimpang 15º, 30º, 45º dan 60º dari geoelectrical strike memiliki panjang graben sebesar 208 m, 230 m, 283 m, dan 400 m. semakin besar penyimpanagan sudut rotasi dari sifat geoelectrical strike menyebabkan semakin besar model menyimpang dari model sebenarnya.&#13;
 &#13;
Kata Kunci : Metode Magnetotellurik, Inversi 2D, Rotasi, Geoelectrical Strike&#13;
</note>
 <subject authority="">
  <topic>RESISTIVITY TO ELECTRICITY</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>61802</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-08-28 16:38:01</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-09-02 10:51:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>