<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="6030">
 <titleInfo>
  <title>ANGKA KEBUNTINGAN SAPI LOKAL SETELAH DIINDUKSI DENGAN PROTOKOL OVSYNCH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mefrianti Efendi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2014</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sinkronisasi berahi dengan menggunakan metode ovsynch terhadap angka kebuntingan sapi lokal. Dalam penelitian ini digunakan 10 ekor sapi betina lokal, dengan status tidak bunting dan sehat secara klinis. Seluruh sapi dibagi atas 2 kelompok perlakuan. Kelompok I (K1) disinkronisasi berahi dengan menggunakan PGF2? sebanyak 5 ml secara intramuskular dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 10 hari. Kelompok II disinkronisasi dengan menggunakan protokol ovsynch. Protokol ovsynch diawali pada hari ke-0 penyuntikan GnRH dengan dosis 1 ml. Pada hari ke-7 seluruh sapi diinjeksikan PGF2? dengan dosis 2 ml. Selanjutnya pada hari ke-9 diinjeksikan kembali 1 ml GnRH. Perkawinan dilakukan dengan teknik inseminasi buatan, inseminasi dilakukan 24 jam setelah injeksi GnRH terakhir. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok I terdapat 3 ekor sapi (60%) yang bunting, sedangkan kelompok II terdapat 4 ekor (80%)  yang bunting. Disimpulkan bahwa sinkronisasi berahi menggunakan protokol ovsynch memberikan angka kebuntingan yang lebih tinggi dibandingkan sinkronisasi berahi dengan PGF2?.</note>
 <subject authority="">
  <topic>CATTLE - ANIMAL HUSBANDRY</topic>
 </subject>
 <classification>636.2</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>6030</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2014-05-09 09:38:52</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2015-10-19 11:37:59</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>