PERAN MEDIATOR TERHADAP PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK PROVINSI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PERAN MEDIATOR TERHADAP PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK PROVINSI ACEH


Pengarang

Sophia Munarisa - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1503101010015

Fakultas & Prodi

Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2019

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK

Sophia Munarisa,
2019 PERAN MEDIATOR TERHADAP PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA DINAS TENAGA KERJA DAN MOBILITAS PENDUDUK PROVINSI ACEH
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
(vii,53),pp.,bibl.,app.
Dr. Muzakkir Abubakar, S.H., S.U.
Pasal 58 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa (1) Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib memiliki mediator hubungan industrial. (2) Mediator hubungan industrial untuk Pemerintah Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 12 (dua belas) orang. (3) Mediator hubungan industrial untuk Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 2 (dua) orang dan/ atau sesuai jumlah perusahaan. Meskipun telah ditegaskan dalam Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2014 tersebut, namun kenyataannya ayat (2) dan ayat (3) belum terwujud sebagaimana mestinya, sehingga mediator yang ada belum mampu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial yang terjadi di lingkungan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh.
Tujuan penulisan ini yaitu untuk menjelaskan peran dari mediator dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial, hambatan mediator dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial, upaya yang ditempuh oleh pihak yang tidak berhasil menyelesaikan melalui mediasi oleh mediator pada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Provinsi Aceh.
Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif. Data sekunder diperoleh dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku-buku dan teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dan data primer dilakukan dengan mewawancarai responden dan informan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan mediasi sangat ditentukan oleh peran mediator dalam menyelesaikan suatu perselisihan yang terjadi. Mediator harus menciptakan perdamaian diantara kedua belah pihak yang bertikai, sehingga hubungan antara kedua belah pihak dapat terjalin kembali dengan baik. Hambatan yang dihadapi mediator adalah faktor eksternal yaitu: tidak hadirnya para pihak, tidak adanya iktikad baik, kurangnya pengetahuan para pihak mengenai mediasi. Sedangkan faktor internal: kurangnya mediator, banyak perlimpahan kasus ke Provinsi dan kurangnya fasilitas ruangan yang tidak memadai. Upaya yang ditempuh para pihak apabila tidak berhasil melakukan mediasi adalah mediator dengan menganjurankan agar ditindaklanjuti di Pengadilan Hubungan Industrial.
Disarankan kepada mediator agar dapat menjunjung tinggi sikap profesionalitas. Disarankan kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk agar dapat memenuhi sarana dan fasilitas yang kurang memadai dan kepada pekerja dan pengusaha agar dapat menghadiri panggilan sidang mediasi, memberikan data yang lengkap dan memahami ketentuan hukum Ketenagakerjaan

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK