<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="57628">
 <titleInfo>
  <title>AKURASI DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA SAPI ACEH MELALUI PENGUKURAN KONSENTRASI INTERFERON-TAU (IFN-?)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>FISMA AMRI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>AKURASI DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA SAPI ACEH MELALUI PENGUKURAN KONSENTRASI &#13;
INTERFERON-TAU (IFN-?)&#13;
&#13;
&#13;
ABSTRAK&#13;
&#13;
Interferon-tau (IFN-?) merupakan sinyal kebuntingan yang dihasilkan oleh sel tropoblas embrio pada saat terjadinya implantasi di dinding endometrium induk yang berguna untuk menyampaikan pesan agar induk dapat menerima keberadaan benda asing (embrio) tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui akurasi diagnosis kebuntingan dini pada sapi aceh melalui pengukuran konsentrasi IFN-?. Pada penelitian ini digunakan delapan ekor sapi betina dewasa, umur 3-5 tahun, bobot badan 150-250 kg, sehat secara klinis dan memiliki reproduksi normal (sudah pernah beranak dan minimal telah mengalami dua kali siklus reguler). Seluruh sapi disinkronisasi berahi menggunakan PGF2? dengan dosis 5 ml dan dilakukan dua kali dengan interval 11 hari sebelum dilakukan inseminasi buatan. Koleksi serum dilakukan pada hari ke-14, 15, 16, 17, 18 setelah IB. Berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG), dari delapan ekor sapi, empat ekor (50%) sapi didiagnosis bunting dan empat ekor (50%) sapi didiagnosis tidak bunting.  Rataan (±SD) IFN-? sapi bunting vs sapi tidak bunting pada hari ke-14, 15, 16, 17, dan 18 masing-masing adalah 14,96±8,65 pg/ml vs 6,14±5,54 pg/ml; 16,74±5,28 pg/ml vs 4,44±3,51 pg/ml; 14,33±5,9 pg/ml vs 5,78±5,20 pg/ml; 13,87±5,42 pg/ml vs 4,38±3,76 pg/ml;dan13,93±6,16 pg/ml vs 3,24±2,63 pg/ml. Konsentrasi   IFN-? terendah pada sapi yang berhasil bunting adalah 7,88± 1,84 pg/ml. Waktu pemeriksaan IFN-? terbaik untuk diagnosis kebuntingan adalah pada hari ke-15 setelah IB dengan akurasi diagnosis bunting sebesar 100% dan akurasi diagnosis tidak bunting sebesar 75%. &#13;
&#13;
Kata kunci: sapi aceh, IFN-t, ELISA, USG&#13;
</note>
 <subject authority="">
  <topic>PREGNANCY - ANIMAL</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>57628</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-05-28 15:28:40</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-07-19 10:11:31</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>