<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="57480">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH SUHU INKUBASI TERHADAP KADAR METABOLIT HORMON KORTISOL PADA GAJAH  SUMATERA (ELEPHAS MAXIMUS SUMATRANUS)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ERTA ERWAN SLAM</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued>2019</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>PENGARUH SUHU INKUBASI TERHADAP KADAR METABOLIT &#13;
HORMON KORTISOL PADA GAJAH SUMATRA &#13;
(Elephas maximus sumatranus)&#13;
ABSTRAK&#13;
Suhu inkubasi  merupakan salah satu faktor  penting dalam metode enzyme-&#13;
linked immunosorbent assay  (ELISA)  untuk  analisis hormon. Oleh  karena itu, &#13;
penelitian ini bertujuan menguji  pengaruh  perbedaan  suhu  inkubasi  pada proses &#13;
pengikatan antara  antibodi dengan  antigen (hormon kortisol dalam sampel feses) &#13;
menggunakan antibodi spesifik  11?-hydroxy-  etiocholanolone    terhadap &#13;
konsentrasi metabolit kortisol pada sampel feses  gajah sumatera.  Rancangan yang &#13;
digunakan pada penelitian ini adalah    Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola satu &#13;
arah terdiri dari 3 kelompok perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 8  ulangan. &#13;
Perlakuan 1 (P1), perlakuan  2 (P2), dan perlakuan 3 (P3) berturut-turut &#13;
menggunakan  suhu inkubasi yaitu  4°C,  suhu ruang (18-21°C),  dan  37°C  dengan &#13;
waktu inkubasi 2 jam.  Hormon metabolit kortisol dianalisis menggunakan metode &#13;
ELISA. Data dianalisis mengunakan analisis ragam  one way  analysis of variance&#13;
(ANOVA).  Hasil penelitian diperoleh  konsentrasi metabolit kortisol  pada sampel &#13;
feses gajah yang diinkubasi  pada  suhu 4°C,  suhu ruang  dan  37°C  berturut-turut &#13;
sebesar  204,33 ± 46,20 ng/g, 223,47 ±51,28 ng/g, dan 275,80 ± 87,17  ng/g.  Hasil &#13;
analisis statistik menunjukkan  tidak  terdapat perbedaan konsentrasi metabolit &#13;
kortisol  antar kelompok perlakuan (P&gt;0,05).  Kesimpulan,  suhu inkubasi yang &#13;
berbeda (suhu 4°C,  suhu ruang (18-21°C), dan  37°C) tidak berpengaruh terhadap &#13;
konsentrasi metabolit kortisol pada sampel feses gajah  yang diuji  menggunakan &#13;
ELISA  kit  5?-hydroxy-CM. Akan tetapi, suhu ruang lebih disarankan untuk &#13;
digunakan karena memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan suhu 4°C  dengan &#13;
variasi konsentrasi (nilai standar deviasi) yang lebih rendah dibandingkan suhu &#13;
37°C. Kata kunci: Suhu inkubasi, ELISA, kortisol</note>
 <subject authority="">
  <topic>THERMOCHEMISTRY</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>57480</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-05-24 12:57:11</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-07-17 10:56:16</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>