<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="52083">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUNA RIZKI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
MUNA RIZKI, KEWENANGAN     MAHKAMAH     KEHORMATAN   &#13;
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK&#13;
INDONESIA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH&#13;
KONSTITUSI NOMOR 76/PUU-XII-2014 DAN&#13;
PASCA DISAHKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2&#13;
TAHUN 2018 TENTANG MAJELIS&#13;
PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN&#13;
PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN&#13;
DAERAH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT&#13;
DAERAH&#13;
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala &#13;
2018                          (vii, 53), pp., bibl.&#13;
 &#13;
(Prof. Dr. Eddy Purnama. S.H, M.Hum )&#13;
Berdasarkan ketentuan Pasal 245 ayat (1) UU MD3 pasca perubahan menyatakan &#13;
bahwa “pemanggilan dan permintaan keterangan kepada anggota DPR sehubungan dengan&#13;
terjadinya tingkat pidana yang tidak sehubungan dengan pelaksanaan tugas yang dimaksud&#13;
dalam Pasal 224 MD3 harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Presiden setelah&#13;
mendapatkan pertimbangan dari Mahkamah Kehormatan Dewan” seharusnya Mahkamah&#13;
Kehormatan Dewan sesuai dengan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik&#13;
Indonesia No. 2 Tahun 2015 tentang Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan&#13;
Republik Indonesia sesuai tugas dan wewenang menangani persoalan etika Anggota DPR. &#13;
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah yang menjadi&#13;
kewenangan Mahkamah Kehormatan Dewan pasca putusan Mahkamah Konstitusi No&#13;
76/PUU-XII-2014 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018 tentang perubahan kedua&#13;
atas undang-undang nomor 17 tahun 2014 tentang majelis permusyawarat rakyat, dewan&#13;
perwakilan rakyat, dewan perwakilan daerah, dan dewan perwakilan rakyat daerah. Untuk&#13;
mengetahui konsekuensi yuridis terhadap Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018 Tentang&#13;
MPR, DPR, DPD, Dan DPRD yang mengabaikan putusan MK NO 76/PUU-XII-2014. &#13;
Data yang diperoleh dalam penulisan skripsi ini dilakukan dengan cara melakukan&#13;
penelitian hukum normatif (studi kepustakaan). Penelitian kepustakaan dilakukan dengan&#13;
serangkaian kegiatan membaca, menelaah dan menganalisis melalui data dan bahan hukum&#13;
seperti peraturan perundang-undangan, hasil penelitian, yurisprudensi, buku, doktrin dan&#13;
jurnal hukum. &#13;
Hasil dari penelitian kepustakaan menunjukkan bahwa Dalam putusannya,&#13;
Mahkamah Konstitusi mengganti frasa izin tertulis MKD menjadi izin tertulis dari&#13;
Presiden, ini dikarenakan bahwa terhadap pejabat Negara yang sedang menghadapi proses&#13;
hukum izinnya dikeluarkan oleh Presiden, sebagaimana yang telah diatur dalam UU MA,&#13;
UU MK, UU BPK. Dan dalam rangka mewujudkan proses hukum yang berkeadilan,&#13;
efektif dan efisien, serta menjamin adanya kepastian hukum. Oleh sebab itu, karena&#13;
putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat, bagaimana pun keputusan itu&#13;
harus ditaati oleh semua pihak.   Putusan Mahkamah Konstitusi adalah res&#13;
judicata (putusan hakim harus dianggap benar).  &#13;
Disarankan Seharusnya Dewan Perwakilan Rakyat merupakan suatu lembaga tinggi&#13;
Negara yang mempunyai fungsi legislasi sebaiknya benar-benar menjalankan fungsinya&#13;
dengan benar, seharusnya DPR dalam membuat suatu produk undang-undang tanpa&#13;
mengesampingkan putusan Mahkamah Konstitusi yang sudah ada sehingga tidak&#13;
menimbulkan polemik dalam masyarakat dan DPR juga seharusnya harus patuh pada&#13;
putusan Mahkamah Konstitusi yeng bersifat final dan mengikat.  &#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>52083</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-12-31 17:35:08</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-01-02 11:33:51</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>