Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
REKONSTRUKSI LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAUT DALAM PADA UMUR OLIGOSEN AKHIR – MIOSEN AWAL FORMASI PAMALUAN, CEKUNGAN KUTAI, MELALUI INTEGRASI DATA PERMUKAAN DAN BAWAH PERMUKAAN SEBAGAI POTENSI RESERVOIR
Pengarang
Muhammad Iqbal Faresi - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1404109010012
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Teknik Geologi (S1) / PDDIKTI : 34201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2018
Bahasa
Indonesia
No Classification
1
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Cekungan Kutai merupakan cekungan terbesar di Kalimantan Timur yang memiliki sumber migas yang signifikan. Oleh karena itu, kita harus mengintegrasikan antara data permukaan dengan data bawah permukaaan untuk dapat menginterpretasikan model dari fasies yang terbentuk di cekungan sejak cekungan mulai terinisiasi (terbentuk). Potensi kandungan minyak dan gas bumi di Cekungan Kutai sangatlah memungkinkah keberadaannya, hal tersebut didukung oleh aspek petroleum system yang sangat mendukung untuk terakumulasinya potensi minyak dan gas bumi di daerah ini. Cekungan Kutai dibagi menjadi dua fase pengendapan yaitu fase pengendapan transgresif Paleogen dan fase pengendapan regresif Neogen. Fase Paleogen secara regional fasies yang berkembang ialah fasies platform karbonat dan fasies laut dalam (deep water) selama Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Endapan yang terbentuk pada Miosen Awal yang dimula dari Oligosen Akhir menghasilkan endapan berupa paket endapan turbidit kipas bawah laut (submarine fan turbidite). Deep water system atau sistem laut dalam adalah suatu sistem lingkungan pengendapan yang secara konvensional dianalogikan oleh kipas bawah laut (submarine fan) yang diendapkan oleh proses arus turbidit. Endapan laut dalam (deep water) secara ekonomis, memiliki potensi sebagai reservoir. Formasi Pamaluan merupakan formasi yang ada pada Cekungan Kutai. Formasi Pamaluan merupakan formasi tertua pada rentang umur Oligosen sampai Miosen Awal. Lingkungan pengendapan Formasi Pamaluan pada umum nya berupa marine (outer neritic-bathyal). Berdasarkan korelasi sikuen stratigrafi pada data sumur, terdapat 6 batas sequen boundary (SB) yaitu SB1-SB6 dan 6 batas maximum flooding surface (MFS) dengan zona reservoir yang terdiri dari 4 zona reservoir paling mewakili pada setiap sikuen. Fasies yang berkembang pada lokasi penelitian terdiri dari 2 macam fasies yaitu fasies inner fan channel filled with thick conglomerate and sandstone turbidites dan middle fan coarsening up succession of sandy turbidites. Integrasi data permukaan dan data bawah permukaan menghasilkan peta paleogeografi perzona waktu yaitu, zona N3-N5 dan zona N5-N7. Nilai porositas dari hasil uji lab terhadap data singkapan kunci pada daerah studi kasus, mempunyai nilai porositas total sebesar 15% berkategori baik (good class).
Kata Kunci: Cekungan Kutai, Deep Water, Submarine Fan, Reservoir, Formasi Pamaluan, Sikuen Stratigrafi, Sequence Boundary (SB), Maximum Flooding Surface (MFS), Peta Paleogeografi
Tidak Tersedia Deskripsi
PEMETAAN GEOLOGI DAN STUDI POTENSI BATUAN RESERVOIR HIDROKARBON PADA SUB CEKUNGAN SIGLI BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DI DAERAH SIGLI DAN SEKITARNYA (TEUKU M. AFIQ MUTTAQIN, 2026)
GEOLOGI FORMASI PEUNASU DAN KARAKTERISTIK RESERVOIR FORMASI BATURAJA BERDASARKAN ANALISIS PETROFISIKA DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN,BLOK X, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN (FAIZ HAIDAR ALI, 2026)
PEMETAAN GEOLOGI DAN PERSEBARAN CAPROCK BERDASARKAN DATA SEDIMENTARY LOGGING PADA FORMASI JULURAYEU, KECAMATAN SAWANG, KABUPATEN ACEH UTARA , PROVINSI ACEH. (NURUL SYAFITRI, 2026)
ANALISIS PETROFISIKA UNTUK MENENTUKAN ZONA RESERVOIR DAN HIDROKARBON DI LAPANGAN BUNGONG SEULEUPOK, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH (Muharrir Mutiara, 2025)
ANALISIS ZONA RESERVOIR DAN SEISMIK FASIES DARI FORMASI SEURULA MENGGUNAKAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D DI LAPANGAN “Y” (Nadia Ismira, 2025)