<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="49419">
 <titleInfo>
  <title>STUDI SISTEM PROTEKSI KATODIK BETON BERTULANG MENGGUNAKAN ANODA ZN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rahus Reza</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Beton bertulang adalah struktur yang paling umum dibangun oleh manusia. Selama seratus tahun terakhir, penggunaan beton yang diperkuat oleh baja telah menjadi salah satu metode konstruksi sipil yang paling populer. Struktur ini juga digunakan pada lingkungan korosif seperti tanah dan air laut. Akibatnya korosi dapat terjadi pada tulangan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kegagalan dini. Oleh karena itu, korosi perlu dikendalikan. Salah satu metode pengendalian korosi yang umum adalah proteksi katodik anoda korban. Namun, kajian secara eksperimental dalam aplikasi metode tersebut pada struktur beton bertulang masih perlu dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari distribusi potensial pada beton bertulang yang terpasang proteksi katodik dengan anoda korban Zn. Spesimen yang digunakan memiliki dimensi panjang 100 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 10 cm. Spesimen tersebut terbagi kepada tiga tipe yaitu anoda-katoda terhubung, anoda-katoda tidak terhubung dan anoda-katoda terhubung pada jarak 5 cm (pada tulangan pertama). Semua spesimen mendapatkan perlakuan wet-dry cycle dalam media larutan NaCl 3,5% dan selanjutnya diangin-anginkan selama 24 jam. Profometer 5+ digunakan untuk mencari letak tulangan dalam beton. Pengukuran potensial korosi dilakukan sekali dalam satu minggu dengan menggunakan alat Half-Cell Potential Meter. Hasil pengukuran potensial korosi setelah 12 minggu wet-dry cycle menunjukkan bahwa spesimen dengan anoda-katoda terhubung  bila dikaitkan dengan diagram Pourbaix untuk Fe terhadap potensial dan pH  beton (&gt;13). Maka  spesimen anoda-katoda terhubung  masih berada pada daerah pasivasi. Artinya reaksi korosi belum terjadi, sehingga spesimen belum tergolong ke daerah terproteksi seperti yang diharapkan.</note>
 <subject authority="">
  <topic>REINFORCED CONCRETE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FERROCONCRETE</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>49419</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-10-05 09:57:26</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-04-11 10:46:50</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>