HUBUNGAN ANTARA ARUS PUNCAK EKSPIRASI DENGAN TINGKAT KONTROL ASMA PADA PENDERITA ASMA DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA ARUS PUNCAK EKSPIRASI DENGAN TINGKAT KONTROL ASMA PADA PENDERITA ASMA DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH


Pengarang

Vany Netza Putri - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1007101010148

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Pendidikan Dokter (S1) / PDDIKTI : 11201

Kata Kunci
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran., 2014

Bahasa

Indonesia

No Classification

616.238

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Asma adalah gangguan inflamasi kronis yang berkaitan dengan hiperreaktivitas
jalan napas dengan episode mengi berulang, sesak napas, rasa berat dada dan
batuk yang dominan pada malam hari. Pengontrolan gejala asma merupakan
faktor penting keberhasilan terapi. Peak Flow Meter (PFM) adalah salah satu alat
untuk mengukur arus puncak ekspirasi (APE), yang digunakan untuk mengontrol
dan memonitoring kondisi asma. Asthma Control Test (ACT) berisi 5 pertanyaan
untuk menilai kondisi asma yang dirasakan oleh pasien. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan antara arus puncak ekspirasi dengan tingkat
kontrol asma. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional survey.
Penelitian dilakukan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel
Abidin Banda Aceh. Teknik pengambilan sampel secara accidental sampling.
Pengambilan data pada bulan Desember 2014 hingga Januari 2014. Analisis yang
digunakan pada penelitian ini adalah uji Fisher. Dari 49 sampel responden
penelitian, rata-rata berumur 36-45 tahun, 28 orang berjenis kelamin perempuan
dan 25 orang dari reponden memiliki BMI normal. Pada penelitian ini, 71,4%
subjek menunjukkan hasil PFM merah dan tidak ada satupun dengan kategori
hijau. Sedangkan dari ACT, 75% subjek memliki asma tidak terkontrol dan tidak
satupun yang terkontrol penuh. Hasil uji Fisher antara arus puncak ekspirasi
dengan tingkat kontrol asma didapatkan p value 0,000 pada CI 95%, ? 0,05 dan
RP 2,56. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara arus
puncak ekspirasi dengan tingkat kontrol asma dan penderita asma dengan fungsi
paru buruk yang ditunjukkan dengan PFM merah berisiko 2,56 kali pada asma
yang tidak terkontrol.
Kata Kunci : APE, ACT, Pengontrolan Asma

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK