<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="45849">
 <titleInfo>
  <title>INTERPRETASI 2D DATA MAGNETOTELLURIK BERDASARKAN MODEL INVERSI 1D</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>AZMI TAUFIQURRAHMAN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2018</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Inversi 1D dan inversi 2D data magnetotellurik telah dilakukan untuk memahami seberapa jauh data 2D dapat dimodelkan menggunakan kode inversi 1D. Kami telah menghasilkan fungsi transfer magnetotellurik 2D dengan empat lapisan sedimen yang berbeda berdasarkan nilai resistivitasnya. Data terdiri dari 12 frekuensi dengan rentang dari 4000 Hz sampai 181019 Hz dalam satu lintasan. Panjang lintasan 480 m dan jumlah stasiun yang digunakan 25 dengan jarak 20 m antar stasiun. Tahanan jenis semu dan data fase  TE, TM dan TE + TM di inversi menggunakan ZondMT1D. Kemudian model inversi 1D yang dihasilkan menggunakan ZondMT1D dibandingkan dengan model inversi 2D yang dihasilkan menggunakan kode REBOCC (Reduced Basic Occam). Pada model inversi 1D menunjukkan 3 lapisan yang berbeda, sedangkan pada model inversi 2D menunjukkan 4 lapisan yang berbeda. Pada lapisan pertama model inversi 1D tidak dapat diselesaikan. Hal ini dikarenakan perbedaan nilai resistivitas pada lapisan pertama dan kedua memiliki selisih yang relatif kecil, sementara pada lapisan ketiga dan keempat nilai resistivitas memiliki selisih yang relatif besar. Pada kasus seperti ini model inversi 1D masih dapat digunakan untuk kajian cepat di lapangan, namun proses inversi 2D masih dibutuhkan karena model yang dihasilkan lebih baik untuk data magnetotellurik 2D.&#13;
Kata Kunci : Metode Magnetotellurik, Inversi 1D, Inversi 2D, Model Resistivitas&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>45849</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-08-29 16:04:24</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-08-29 16:07:03</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>