PENENTUAN PRIORITAS PELAKSANAAN PELATIHAN KONSTRUKSI DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    NULL

PENENTUAN PRIORITAS PELAKSANAAN PELATIHAN KONSTRUKSI DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS


Pengarang

Alfirdaus Saviri - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1104101010033

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Teknik Sipil (S1) / PDDIKTI : 22201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2018

Bahasa

Indonesia

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Pelatihan Tenaga kerja konstruksi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja konstruksi Indonesia. Penentuan prioritas pelaksanaan pelatihan konstruksi merupakan salah satu tugas penting yang dihadapi oleh pengambil keputusan pada pemerintah daerah. Penentuan pelaksanaan pelatihan konstruksi dapat dilihat sebagai permasalahan pengambilan keputusan yang melibatkan banyak kriteria yang bersifat kompleks. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat digunakan untuk menentukan bobot kriteria dalam penentuan prioritas pelaksanaan pelatihan konstruksi. Pada penelitian ini, penentuan prioritas pelaksanaan pelatihan konstruksi dikhususkan di kota Banda Aceh. Tujuan Penelitian ini adalah memberikan gambaran mengenai pengambilan keputusan menggunakan metode AHP dalam menentukan prioritas pelaksanaan pelatihan konstruksi secara tepat dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompeten. Dalam mengaplikasikan metode AHP, diperlukan pemilihan kriteria maupun subkriteria serta alternatif. Kriteria yang digunakan yaitu kriteria ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM), jumlah instruktur, Jumlah assessor dan fasilitas pendukung. Keempat kriteria tersebut diuraikan lagi menjadi sub kriteria. Kemudian dihitung bobot dari hasil survei kuesioner kepada para stakeholders dan dilakukan uji konsistensi dari hasil perhitungan yang diperoleh. Pembobotan alternatif pada masing-masing pelatihan konstruksi dilakukan dengan penentuan skor (scoring) berdasarkan analisa data sekunder, sehingga ditetapkan prioritas pelatihan konstruksi dengan bobot terbesar sebagai pilihan. Hasil yang didapatkan yaitu kriteria ketersediaan SDM memperoleh bobot tertinggi sebesar 0,512 dan diikuti dengan jumlah instruktur, jumlah asesor, dan fasilitas pendukung yang secara berurutan bobotnya adalah 0,216 ; 0,159 ; 0,113. Dengan urutan prioritas pelatihan keliling atau Mobile Training Unit (MTU) dengan bobot 0,332, pelatihan di tempat kerja dengan bobot 0,323, pelatihan Jarak jauh atau distance learning dengan bobot 0,239, pelatihan di workshop atau laboratorium dengan bobot 0,204, dan pelatihan di dalam kelas dengan bobot 0,198.

Kata kunci : pelatihan konstruksi, pemilihan alternatif, metode AHP, kota Banda Aceh

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK