Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
INVERSI 2D DATA MAGNETOTELLURIK MENGGUNAKAN MODEL A PRIORI
Pengarang
ZARBAHANI - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1404107010067
Fakultas & Prodi
Fakultas Teknik / Teknik Geofisika (S1) / PDDIKTI : 33201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2018
Bahasa
Indonesia
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Inversi 2D data magnetotellurik dengan penambahan model a priori telah dilakukan untuk mengetahui efek penambahan model a priori tehadap hasil inversi 2D data megnetotellurik. Model atau informasi a priori sendiri merupakan model atau informasi dari hasil penelitian sebelumnya dari objek yang sama atau saling terkait dengan penelitian yang akan dilakukan dan telah divalidasi kebenarannya. Data magnetotellurik yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sintetis, dimana data tersebut merepresentasikan keadaan bawah permukaan dengan dua buah blok anomali resistivitas pada kedalaman yang relatif dangkal didalamnya. Data terdiri dari 25 buah stasiun dengan frekuensi yang digunakan dengan rentang 4000 Hz sampai 181019 Hz. Selanjutnya data dilakukan inversi 2D menggunakan program inversi REBOCC (REduced Basic OCCam inversion ). Inversi dilakukan dengan dua tahap yaitu dengan penambahan model a priori dan tanpa model a priori. Setiap proses inversi menggunakan tiga mode data yaitu data mode TE, data mode TM, dan data mode TE&TM dengan tujuan untuk mendapatkan model yang paling tepat dalam penelitian ini. Analisa model 2D yang didapatkan menunjukkan bahwa jumlah iterasi dari inversi 2D menggunakan model a priori yang dihasilkan sebanyak 2 kali dengan nilai error dari masing-masing model dengan mode data berbeda sebesar 1%, 0,99%, dan 0,97%. Nilai tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan model tanpa penambahan informasi a priori, dimana nilai RMS error dari masing-masing model sebesar 6,4%, 4,49%, dan 3% dengan iterasi yang didapatkan masing-masing sebesar 9 kali, 5 kali, dan 4 kali. Nilai iterasi dan RMS error terkecil dari kedua jenis model dihasilkan dari model data mode TE&TM. Interpretasi kualitatif model resistivitas 2D menunjukkan bahwa model 2D yang dihasilkan dari inversi 2D dengan penambahan model a priori lebih mendekati model awal yang diberikan dibandingkan dengan model 2D tanpa adanya penambahan model a priori. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan model a priori yang tepat dalam inversi 2D data magnetotellurik dapat mempengaruhi proses dan model yang dihasilkan ,proses inversi dapat berlangsung lebih cepat dan kualitas model yang dihasilkan lebih baik.
Kata Kunci : Metode Magnetotellurik, Inversi 2D, Model A Priori, REBOCC, Model Resistivitas.
Tidak Tersedia Deskripsi
INTERPRETASI 2D DATA MAGNETOTELLURIK BERDASARKAN MODEL INVERSI 1D (AZMI TAUFIQURRAHMAN, 2018)
ROTASI DATA 2 DIMENSI IMPEDANSI TENSOR MAGNETOTELLURIK UNTUK PENENTUAN GEOELECTRICAL STRIKE (Chintya Putrianda, 2019)
IDENTIFIKASI PATAHAN SUMATRA DENGAN MENGGUNAKAN DATA MAGNETOTELLURIK SEPANJANG KAWASAN PIDIE-MEULABOH (Uswatun Hasanah, 2018)
INTERPRETASI MODEL STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN LAPANGAN PANAS BUMI SEULAWAH AGAM MENGGUNAKAN DATA MAGNETOTELLURIK (MT) (Muyassir, 2016)
PEMODELAN 2D SISTEM PANASBUMI GUNUNG SEULAWAH AGAM MENGGUNAKAN DATA MAGNETOTELLURIK (Agung Prastyo, 2015)