DISTRIBUSI JUMLAH SEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DISTRIBUSI JUMLAH SEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

DISTRIBUSI JUMLAH SEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DISTRIBUSI JUMLAH SEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA BANDA ACEH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


Pengarang

Farriz Ade Rezky - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

1108107010066

Fakultas & Prodi

Fakultas MIPA / Informatika (S1) / PDDIKTI : 55201

Penerbit

Banda Aceh : FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SYIAH KUALA., 2016

Bahasa

Indonesia

No Classification

1

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penyakit demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya dapat menyerang berbagai golongan umur dari bayi hingga orang dewasa, penyakit demam berdarah yang disebabkan virus dengue dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypty. Dalam penelitian ini adalah memanfaatkan sistem informasi geografis untuk memetakan daerah-daerah yang terkena penyakit demam berdarah dengue berdasarkan tingkat kematiannya yaitu rendah,sedang, dan tinggi di Kota Banda Aceh. Tidak tersedianya informasi tentang bahayanya penyebaran wabah DBD di Banda Aceh masyarakat jadi kesulitan mendapatkan informasi mengenai penyebarannya. Oleh karena itu pemetaan sebaran informasi kasus demam berdarah DBD di Kota Banda Aceh yang meliputi 9 kecamatan bertujuan memetakan tingkat kematian akibat penyakit demam berdarah dengue beberapa kecamatan. Dari pemetaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2011 sebaran penyakit demam berdarah tertinggi ada pada kecamatan Kuta Alam, Baiturrahman, dan Jaya Baru. Pada tahun 2012 sebaran penyakit ini menjadi semakin meningkat dan tersebar ke beberapa kecamatan seperti Syiah Kuala, Kuta Alam, Baiturrahman, Lueng Bata, dan Jaya Baru. Tahun 2013 terjadi suatu penurunan hanya ada dua kecamatan saja yang tingkat penyakitnya tinggi, sedangkan lima kecamatan lagi menjadi tingkat sedang, dan dua kecamatan lagi Meraksa dan Kutaraja menjadi daerah ringan. Pada tahun 2014 dan 2015 tidak ada lagi daerah yang tingkat kasusnya tinggi, hanya menjadi tingkat sedang dan ringan saja.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK