<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="32569">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN HUKUM EUTHANASIA DI INDONESIA DAN BELANDA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mirza Juwanda</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Mirza Juwanda, &#13;
2017&#13;
&#13;
 &#13;
PERBANDINGAN HUKUM EUTHANASIA DI&#13;
INDONESIA DAN BELANDA&#13;
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala &#13;
(vi,50),pp.,bibl.,app.&#13;
 &#13;
Mahfud, S.H., LL.M.&#13;
 &#13;
Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang&#13;
menyebutkan bahwa, “Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan&#13;
meningkatkan taraf kehidupannya”. Belanda sendiri mengatur eutahanasia dalam Pasal 2&#13;
Wet van 12 April 2001 Wet toetsing levensbeeindiging op verzoek en hulp bij zelfdoding&#13;
atau Undang-Undang mengenai Prosedur untuk Mengakhiri Hidup Secara Sukarela dan&#13;
Pengecualian terhadap Ketentuan Pidana dan Undang-Undang tentang Kremasi dan&#13;
Penguburan, yang mendekriminalisasi euthanasia terhadap pasien-pasien yang mengalami&#13;
sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya&#13;
sebagaimana diatur dalam Bab II tentang Tata Cara Pelaksanaan Euthanasia. &#13;
Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan tentang pengaturan euthanasia dalam hukum&#13;
positif Belanda dan Indonesia dan untuk menjelaskan syarat yang diterapkan Indonesia&#13;
terkait pelaksanaan eutanasia. &#13;
Untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini dilakukan dengan cara&#13;
menggunakan metode penelitiam hukum normatif atau metode penelitian kepustakaan&#13;
untuk mengumpulkan data sekunder berupa teori-teori dan konsep yang diperoleh dari&#13;
buku-buku, jurnal, peraturan perundang-perundangan, dan karya ilmiah lainnya untuk&#13;
selanjutnya dijadikan alat analisis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang&#13;
telah diidentifikasi dalam rumusan permasalahan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan tentang euthanasia dalam&#13;
hukum positif Belanda  diatur dalam Pasal 2 Wet van 12 April 2001 Wet toetsing&#13;
levensbeeindiging op verzoek en hulp bij zelfdoding atau Undang-Undang mengenai&#13;
Prosedur untuk Mengakhiri Hidup Secara Sukarela dan Pengecualian terhadap&#13;
Ketentuan Pidana dan Undang-Undang tentang Kremasi dan Penguburan di dalam&#13;
Bab II tentang Tata Cara Pelaksanaan Euthanasia. Pengaturan tentang euthanasia&#13;
dalam hukum positif di Indonesia juga diatur dalam peraturan perundang-undangan&#13;
sebagaimana tercantuim dalam Penjelasan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang HAM,&#13;
namun KUHP sendiri mutlak melarang praktik euthanasia. Syarat yang digunakan&#13;
Indonesia terkait pelaksanaan euthanasia tidak diatur secara eksplisit dalam hukum&#13;
positif, namun diatur atau diakui secara implisit dalam Penjelasan Pasal 9 ayat (1)&#13;
Undang-Undang HAM.&#13;
Disarankan kepada pembentuk peraturan perundang-undangan untuk mengatur &#13;
lebih lanjut mengenai euthanasia di Indonesia agar tidak terjadi kesalahpahaman&#13;
dalam memahami hukum positif Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Belanda&#13;
dengan memberlakukan wet 12 April dan disarankan untuk perhatian yang lebih&#13;
terhadap beberapa hal terkait praktik euthanasia di Indonesia, di antaranya,&#13;
Pengakhiran perawatan medis karena kematian batang otak, Pengakhiran hidup&#13;
akibat keadaan darurat (overmacht). Pasal 344 KUHP, menghentikan perawatan&#13;
medis yang tidak berguna, dan pasien menolak dilakukannya perawatan sehingga&#13;
dokter tidak berhak melakukan tindakan apapun.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>32569</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-07-14 13:50:56</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-07-14 14:31:09</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>