<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="31049">
 <titleInfo>
  <title>FENOMENA REVERSE CULTURE SHOCK PADA MAHASISWA ACEH YANG PERNAH TINGGAL SEMENTARA DI LUAR NEGERI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Pocut Shaliha Finzia Panglima Polem</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini berjudul “Fenomena Reverse Culture Shock Pada Mahasiswa Aceh yang Pernah Tinggal Sementara di Luar Negeri”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk reverse culture shock (RCS) yang dialami oleh mahasiswa Aceh dan upaya-upaya yang dilakukan dalam menghadapinya. Penelitian ini menggunakan model kurva-W reverse culture shock, dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi terhadap yang informan berjumlah 7 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik criteria sampling. Kriteria informan dalam penelitian ini antara lain merupakan mahasiswa Aceh yang pernah tinggal sementara di luar negeri minimal lebih kurang satu tahun dan periode kembali ke Aceh sekurang-kurangnya adalah pada tahun 2011. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap informan sedikit banyaknya mengalami RCS setelah kembali ke lingkungan asal (Aceh), meskipun tingkat RCS yang dialami berbeda. Reverse culture shock masih dialami meski para informan pada dasarnya sudah paham mengenai budaya asal. Hal ini cenderung disebabkan oleh ekspektasi yang tinggi terhadap lingkungan asal serta ketidaksiapan menghadapi perubahan rutinitas serta kebiasaan yang biasa informan lakukan di host country. Bentuk-bentuk RCS yang dialami meliputi perasaan campur aduk ketika akan kembali ke lingkungan asal, bahasa, makanan, harga barang atau jasa, waktu, rasa jenuh, rasa diri dan ruang, serta nilai dan norma. Para informan melakukan adaptasi kembali untuk mengatasi RCS dengan mencari alternatif untuk membuat dirinya nyaman, mencari dan berbagi perasaan dengan teman-teman yang mengalami hal yang sama, berpikir positif, mencari kelompok serta rutinitas baru, serta perlahan mencoba mengikuti kembali pola kebiasaan masyarakat dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam masyarakat.</note>
 <subject authority="">
  <topic>INVESTMENT</topic>
 </subject>
 <classification>1</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>31049</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-05 15:52:06</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-05-21 12:12:22</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>