Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
KARAKTERISTIK PENGERINGAN BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L) MENGGUNAKAN PENGERING OVEN
Pengarang
Asmaul Husna - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1205106010062
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Teknik Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2017
Bahasa
Indonesia
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Bawang putih (Allium sativum L) merupakan komoditas sayuran yang sangat dikenal sebagai bahan atau bumbu penyedap masakan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Pengeringan bawang putih berperan untuk memperpanjang umur simpan, mendukung pengolahan lebih lanjut seperti penepungan dan memudahkan pengemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengeringan bawang putih, menganalisis energi selama proses pengeringan, dan mengkaji mutu bubuk bawang putih.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial yang mengkaji variasi suhu pengeringan yaitu suhu 60 °C, 70 °C, dan 80 °C menggunakan pengering oven dengan 3 lapis rak. Parameter pengamatan dan analisis meliputi kelembaban relatif (RH) ruang pengering, penurunan berat bahan, waktu pengeringan, laju pengeringan, rendemen, kadar air bubuk bawang putih, kalium, fosfat, uji organoleptik dan energi pengeringan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pengeringan terjadi penurunan RH, dimana pada suhu 60 °C RH turun dari 64,88 % menjadi 39,59 %, pada suhu 70 °C RH turun dari 82,75 % menjadi 37,77 %, dan pada suhu 80 °C RH turun dari 62,79 % menjadi 36,78 %. Penurunan berat bawang putih terjadi selama proses pengeringan seiring dengan penurunan kadar air bahan dan untuk mencapai kadar air maksimal 10% dibutuhkan waktu selama 5 jam (80 °C), 8 jam (70 °C), dan 15 jam (60 °C). Laju pengeringan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu pengeringan. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (ANOVA) diperoleh bahwa perlakuan variasi suhu pengeringan tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen bubuk bawang putih, namun berpengaruh nyata terhadap kadar air bubuk bawang putih. Persentase kalium tertinggi (1,66%) dan kadar fosfat tertinggi (4,32%) diperoleh pada bubuk bawang putih yang dikeringkan dengan suhu 70 °C. Berdasarkan persepsi panelis, bubuk bawang putih yang dikeringkan dengan suhu 60 °C adalah yang paling disukai. Energi pengeringan tertinggi diperoleh pada pengeringan bawang putih dengan suhu 80 °C yaitu sebesar 813,539 kJ.
Tidak Tersedia Deskripsi
UJI EFEKTIVITAS KOMBINASI AMOKSISILIN DAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) TERHADAP ENTEROCOCCUS FAECALIS SECARA IN VITRO (Theodora Tri Agustina Simbolon, 2023)
PERBANDINGAN DAYA HAMBAT PERASAN UMBI LAPIS BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) DENGAN BAWANG BOMBAY (ALLIUM CEPA) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS SECARA IN VITRO (Putri Hastina, 2022)
DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS SECARA IN VITRO (Mairisa Sulfani, 2015)
PENGARUH MINYAK ATSIRI BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L.) TERHADAP MORTALITAS LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI L. INSTAR III (FAISAL SETIAWAN, 2013)
UJI LARVASIDA EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM L) TERHADAP LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI INSTAR III (muhammad al-kahfi, 2015)