<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="28445">
 <titleInfo>
  <title>PELAKSANAAN HAREUTA PEUNULANG KEPADA ANAK PEREMPUAN MENURUT TINJAUAN  HUKUM ISLAM (SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN PIDIE)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Lulu Munirah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
PELAKSANAAN HAREUTA PEUNULANG  KEPADA &#13;
ANAK PEREMPUAN MENURUT TINJAUAN&#13;
HUKUM ISLAM&#13;
&#13;
LULU MUNIRAH,&#13;
2016&#13;
&#13;
(Suatu Penelitian di Kabupaten Pidie)&#13;
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala&#13;
(vii, 56), pp., bibl., app. &#13;
(Dr. Teuku Muttaqin Mansur, M.H)&#13;
&#13;
 Pasal 171 huruf g Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan bahwa hibah&#13;
adalah pemberian sesuatu secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang&#13;
lain yang masih hidup untuk dimiliki. Kemudian Pasal 210 KHI juga menyatakan bahwa&#13;
orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya&#13;
paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta bendanya kepada&#13;
orang lain atau lembaga dihadapan dua orang saksi untuk dimiliki. Di Kabupaten Pidie,&#13;
pemberian hibah dipraktikkan melalui hareuta peunulang. Hareuta peunulang&#13;
merupakan suatu pemberian harta dari orangtua kepada anak perempuannya setelah&#13;
pernikahan. Hareuta peunulang telah dipraktikkan oleh masyarakat Kabupaten Pidie&#13;
secara turun temurun. Saat ini, hareuta peunulang tersebut banyak menimbulkan&#13;
ketidakadilan terhadap ahli waris laki-laki dikarenakan pemberian hartanya kepada anak&#13;
perempuan melebihi dari sepertiga sesuai dengan yang telah ditetapkan.&#13;
 Tujuan dari penulisan skripsi ini menemukan dan menjelaskan cara pelaksanaan&#13;
hareuta peunulang di Kabupaten Pidie dan untuk mengetahui akibat hukum pelaksanaan&#13;
hareuta peunulang jika telah melebihi dari sepertiga dari harta bendanya menurut&#13;
tinjauan hukum Islam serta penyelesaiannya.&#13;
 Data penulisan skripsi ini diperoleh melalui data sekunder dan data primer. Data&#13;
sekunder diperoleh dari penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dilakukan&#13;
dengan cara mempelajari peraturan perundang-undangan, teori-teori dan buku yang&#13;
berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sedangkan data primer diperoleh dari&#13;
penelitian lapangan (Field Research), yaitu dilakukan dengan cara mewawancarai&#13;
responden dan informan.&#13;
 Hasil penelitian skripsi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan hareuta peunulang&#13;
kepada anak perempuan menimbulkan masalah karena dinilai tidak adil. Hareuta&#13;
peunulang yang diberikan setelah pernikahan oleh orangtuanya berupa rumah dan/atau &#13;
tanah, diberikan melebihi sepertiga dari harta bendanya kepada anak perempuannya, &#13;
sehingga anak laki-laki tidak mendapatkan hak atas warisan. Pemberian hibah ini dapat&#13;
dibatalkan sepihak oleh orangtua (si pemberi hibah) dikarenakan pemberian hibah dari&#13;
orangtua kepada anaknya dapat ditarik kembali. Permasalahan hareuta peunulang seperti&#13;
ini diselesaikan secara musyawarah dengan bantuan aparatur gampong dan imuem&#13;
meunasah serta perangkat gampong lainnya. Sementara itu, akibat hukum pelaksanaan&#13;
hareuta peunulang di Kabupaten Pidie dalam praktiknya tidak sesuai dengan ketentuan&#13;
KHI dan hukum Islam. &#13;
 Disarankan kepada masyarakat dalam putusan pembagian harta dapat&#13;
berpedoman pada ketentuan KHI dalam serta prinsip-prinsip hukum Islam. Hal ini untuk&#13;
menghindari pertikaian dalam hal pembagian harta baik pemberian hibah, wasiat dan&#13;
warisan. &#13;
&#13;
</note>
 <subject authority="">
  <topic>ISLAMIC LAW</topic>
 </subject>
 <classification>340.59</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>28445</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-01-03 13:35:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-11-12 09:02:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>