<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="26985">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN ANOMALI MEDAN MAGNETIK TOTAL BERDASARKAN DARI KERAPATAN STASIUN PADA KAWASAN BENTENG KUTA LUBOK</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dede Zulhana</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Benteng Kuta Lubuk merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang masih tersisa di Aceh, penelitian mengenai perbandingan anomali medan magnetik total berdasarkan dari kerapatan stasiun pada kawasan Benteng Kuta Lubok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode magnetik yang dapat membedakan perbedaan resolusi data berdasarkan kerapatan stasiun, dengan menggunkan alat proton procession magnetometer (PPM). Penelitian ini bertujuan mendapatkan anomali medan magnetik total pada kawasan benteng membandingkan resolusi berdasarkan kerapatan stasiun. Data yang diperoleh berupa nilai intensitas medan magnetik. Data tersebut kemudian diolah menggunakan software surfer  untuk memperoleh peta kontur. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan resolusi kerapatan yang menunjukkan sisa-sisa bangunan benteng . Adapun perbedaan yang di dapat dari penelitian berupa perbedaan respon intensitas medan magnetik sehingga pada resolusi jarak antar titik 2 meter dan untuk jarak antar stasiun 2 meter memiliki resolusi yang lebih bagus yang menunjukkan sisa-sisa benteng dibandingkan dengan penelitian terdahulu dengan jarak antar stasiun 5 meter dan jarak antar lintasan 10 meter. Dari hasil pengolahan data menunjukkan bahwa resolusi kerapatan penelitian menunjukkan bangunan sisa-sisa arkeologi yaitu benteng.&#13;
&#13;
Kata kunci: metode magnetik, resolusi kerapatan, surfer.&#13;
&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>26985</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-10-17 12:06:09</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-10-17 12:17:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>