<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="26950">
 <titleInfo>
  <title>INTERPRETASI SUNGAI PURBA (PALEOCHANNEL) BERDASARKAN METODE ELECTROMAGNETIC CONDUCTIVITY METER DI GAMPONG GLA MEUNASAH BARO, ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>rizka rahmah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Telah dilakukan penelitian tentang interpretasi sungai purba (paleochannel) berdasarkan metode Elecromagnetic Conductivity Meter di Gampong Gla Meunasah Baro, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Kawasan Gla Meunasah Baro merupakan kawasan alluvial (dataran yang terbentuk karena sedimentasi oleh sungai) yang didominasi oleh batuan alluvium yang terdiri dari sedimen seperti pasir, kerikil, lempung dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sedimen pada struktur bawah permukaan dangkal berdasarkan nilai konduktivitas dan untuk menginterpretasi struktur bawah permukaan dangkal daerah penelitian. Alat yang digunakan adalah CMD-4 GF Instrument, yang berfungsi untuk membangkitkan gelombang elektromagnetik sebagai konduktivitimeter dengan menggunakan frekuensi tetap sebesar 9,8 kHz mencapai kedalaman 3 meter. Lintasan pengukuran dibuat 6 lintasan, panjang tiap lintasan berbeda-beda dengan sesuai kondisi area penelitian yaitu 300 hingga 600 meter, hal ini disesuaikan dengan kondisi lapangan, dimana sebagian lokasi penelitian tidak dapat dijangkau karena adanya rumah warga, hutan, dan semak belukar. Jarak antar stasiun (titik) 10 meter dan jarak antar lintasan sepanjang 10 meter. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan filtering low pass dan software Surfer 10. Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat struktur batuan yang resistif membentuk pola tertentu yang diduga sebagai sungai purba akibat sedimentasi. Pada mode conductivity, dugaan sungai mati tersebut ditunjukkan oleh nilai konduktivitas yang rendah berkisar 40-70 mS/m. Namun, pada area penelitian tersebut terdapat nilai konduktivitas yang tinggi yang disebabkan oleh adanya besi, air pada rumah warga. Nilai tersebut dapat diinterpretasikan bahwa pada area penelitian didominasi oleh batuan sedimen seperti tanah lempung, lanau, krikil, batu pasir sehingga menunjukkan adanya pendangkalan sungai (sedimentasi).&#13;
Kata kunci: paleochannel, mode conductivity, sedimentasi</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>26950</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-10-14 14:26:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-10-17 15:07:51</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>