<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="24491">
 <titleInfo>
  <title>TINJAUAN KELAYAKAN EKONOMI PENGEMBANGAN BANDAR UDARA REMBELE BENER MERIAH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ivan Windiara</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Bandar Udara Rembele (BR) sebagai prasana transportasi udara adalah alternatif yang dibangun oleh pemerintah Aceh Tengah saat itu sebagai fasilitas yang dapat mendukung meningkatnya perekonomian. Sehubungan terjadinya bencana alam gempa bumi 6,2 Skala Richter yang menimpa Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah pada tanggal 2 Juli 2013, BR sangat berfungsi untuk mengevakuasi korban bencana untuk dibawa berobat ke Medan maupun Banda Aceh menggunakan pesawat kecil. Oleh karena itu, percepatan pembangunan pengembangan BR dilakukan. Saat ini BR telah dikembangkan dengan dimensi runway 2.250 meter panjang dan 30 meter lebar yang mampu melayani pesawat tipe CN 295 dan pesawat tipe Boeing 737 Series dimana sebelumnya panjang runway 1400 m dan lebar 30 m yang hanya mampu didarati oleh pesawat jenis CN 235. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk meninjau kembali kelayakan ekonomi BR sebagai bandara Kelas III. Metode yang digunakan pada tinjauan kelayakan ekonomi BR adalah metode Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), dan Pay Back Period (PBP), sedangkan untuk peramalan (forecasting) jumlah penumpang menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Berdasarkan analisis regresi didapat persamaan linear sebagai dasar estimasi yaitu Y = 0,027X - 6772,899 (Y = jumlah penumpang dan X = variabel jumlah penduduk). Berdasarkan analisis kelayakan ekonomi pada tahun ke 30 sudah memenuhi standar kelayakan ekonomi dengan  skenario moderat pada tingkat discount rate 10% dan sangat layak dengan skenario optimis, dimana pemerintah harus ekstra dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah seperti mempromosikan berbagai objek wisata, merencanakan kota tujuan wisata seperti Kota Takengon dengan potensi wisata Danau Laut Tawar di Aceh Tengah serta terus memperbaiki prasarana transportasi jalan raya terutama akses menuju bandara agar BR dapat digunakan tidak hanya oleh penduduk Aceh Tengah dan Bener Meriah melainkan kabupaten/kota di sekitarnya seperti Aceh Utara, Bireuen, Gayo Lues dan Lhokseumawe.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>24491</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-08-09 22:55:32</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-08-10 08:54:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>