<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="23182">
 <titleInfo>
  <title>PENERAPAN HAK EX OFFICIO HAKIM TERHADAP HAK-HAK ISTERI DALAM PERKARA CERAI TALAK. (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM MAHKAMAH SYAR’IYAH BANDA ACEH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ERA UTARI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
ERA UTARI, PENERAPAN HAK EX OFFICIO HAKIM TERHADAP&#13;
HAK-HAK ISTERI DALAM PERKARA CERAI&#13;
TALAK.&#13;
2016 (Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Mahkamah&#13;
Syar’iyah Banda aceh)&#13;
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala&#13;
(iv,52), pp., bibl.&#13;
Muzakkir Abubakar, S.H., S.U.&#13;
Pengadilan wajib memutus perkara perceraian di persidangan meskipun salah&#13;
satu pihak tidak bersedia melakukan perceraian. Hak ex officio merupakan hak yang&#13;
dimiliki hakim karena jabatannya yang salah satunya adalah untuk memutuskan atau&#13;
memberikan sesuatu yang tidak ada dalam tuntutan seperti dapat menyelamatkan hak&#13;
mantan isteri setelah terjadinya perceraian. Berdasarkan Pasal 41 huruf c Undangundang&#13;
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, kata dapat ditafsirkan boleh secara&#13;
ex officio memberi ruang kepada hakim untuk menetapkan mut’ah dan iddah, sebagai&#13;
bentuk perlindungan hak terhadap mantan isteri akibat perceraian. Majelis Hakim&#13;
dapat menghukum mantan suami membayar kepada mantan isterinya. Namun dalam&#13;
kenyataannya banyak putusan cerai talak di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh belum&#13;
sepenuhnya memberikan hak-hak yang dimiliki mantan isteri secara ex officio.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pertimbangan hukum hakim dalam&#13;
menerapkan hak ex officio dalam perkara cerai talak dan untuk menjelaskan upaya&#13;
yang dilakukan isteri jika suami tidak melakukan kewajibannya.&#13;
Untuk memperoleh data dalam penulisan ini, digunakan metode penelitian&#13;
kepustakaan dan penelitian lapangan. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan&#13;
menelaah buku-buku bacaan dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan&#13;
dengan masalah yang diteliti. Sedangkan penelitian lapangan diperoleh dari&#13;
wawancara yang dilakukan dengan sejumlah responden dan informan yang terkait&#13;
langsung dengan masalah yang diteliti.&#13;
Hasil penelitian di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh menunjukkan bahwa&#13;
pertimbangan hukum hakim dalam menerapkan hak ex officio dalam perkara cerai&#13;
talak belum berjalan dengan maksimal. Hakim dalam memutuskan perkara cerai talak&#13;
belum sepenuhnya menerapkan hak ex officio dalam hal pemenuhan hak mantan isteri&#13;
setelah perceraian. Diketahui Hakim mempunyai kebebasan untuk menemukan dan&#13;
menentukan sesuatu dalam suatu putusan guna untuk tercapainya rasa keadilan yang&#13;
hidup di dalam masyarakat. Upaya yang dilakukan isteri jika suami tidak melakukan&#13;
kewajibannya dengan mengajukan gugatan keberatan setelah gugatan yang dilakukan&#13;
terdahulu telah diputuskan yaitu melalui permohonan eksekusi.&#13;
Disarankan kepada Majelis Hakim yang memutuskan perkara cerai talak&#13;
dapat melindungi hak mantan isteri setelah terjadinya perceraian meskipun hal&#13;
tersebut tidak dimintakan dalam tuntutannya. Disarankan kepada suami agar&#13;
melakukan pemenuhan hak-hak isteri setelah terjadinya perceraian guna pihak isteri&#13;
tidak merasa dirugikan atau terabaikan hak-hak yang dimilikinya sebagaimana yang&#13;
telah diputuskan pengadilan.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>23182</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-06-30 10:48:39</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-06-30 11:08:39</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>