Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
TANGGUNG JAWAB PEGAWAI NEGERI SIPIL TERHADAP PEMBERIAN NAFKAH KEPADA BEKAS ISTERI DAN ANAKNYA (SUATU KAJIAN DI KABUPATEN BIREUEN)
Pengarang
BELLA DALILA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
1203101010316
Fakultas & Prodi
Fakultas Hukum / Ilmu Hukum (S1) / PDDIKTI : 74201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Universitas Syiah Kuala., 2016
Bahasa
Indonesia
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
(Ilyas Yunus, S.H., M.Hum.)
Pasal 8 PP No. 45 Tahun 1990 tentang Perubahan atas PP No.10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil menyatakan dalam ayat (1) bahwa bila perceraian terjadi atas kehendak PNS pria, maka bagi PNS pria tersebut wajib memberikan sebagian gajinya terhadap bekas isteri dan anak-anaknya, dan dalam ayat (2) menyatakan bahwa pembagian gaji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ialah sepertiga untuk PNS pria yang bersangkutan, sepertiga untuk bekas isteri, dan sepertiga untuk anaknya. Pada kenyataannya masih terdapat perkara perceraian dimana PNS pria tidak menjalankan tanggung jawabnya sesuai dengan putusan pengadilan Mahkamah Syar’iyah.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan pelaksanaan tanggung jawab pemberian nafkah oleh PNS terhadap bekas istri dan anaknya, faktor-faktor yang menyebabkan suami PNS tidak memberikan nafkah kepada bekas isteri dan anaknya, dan upaya-upaya yang dapat ditempuh bekas isteri PNS untuk memperoleh haknya terhadap gaji dari bekas suaminya.
Data yang di peroleh dalam penulisan skripsi ini, dilakukan dengan menggunakan metode yuridis empiris, yakni penelitian kepustakaan dan lapangan. Dalam mendapatkan data skunder dilakukan penelitian kepustakaan dengan menelaah buku-buku dan peraturan perundang-undangan sedangkan data primer diperoleh dari wawancara yang dilakukan dengan sejumlah responden dan informan yang terkait langsung dengan masalah yang diteliti.
Berdasarkan hasil Penelitian, diketahui bahwa pada Mahkamah Syar’iyah Bireuen pada tahun 2014 pelaksanaan pemberian nafkah oleh PNS terhadap bekas isteri dan anaknya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Faktor-faktor yang menyebabkan suami PNS tidak memberikan nafkah kepada bekas isteri dan anaknya yaitu faktor ekonomi, faktor orang tua bekas isteri mampu untuk memberikan biaya nafkah kepada anaknya, faktor kurangnya kesadaran hukum dari pihak bekas suami dan faktor pihak isteri tidak meminta haknya dalam gugatan. Upaya-upaya yang dapat ditempuh bekas isteri PNS untuk memperoleh haknya terhadap gaji dari bekas suaminya yaitu bekas isteri dapat melaporkannya kepada bendaharawan tempat suami bekerja dan apabila bekas isteri tidak terlalu paham dalam hal ini, maka dapat meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum.
Disarankan kepada Tim PP 10 di setiap instansi agar dapat memberikan penyuluhan hukum yang terkait dengan Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS dan bekas isteri PNS, agar mereka paham, sehingga mereka tidak mengabaikan hak dan kewajiban masing-masing.
Tidak Tersedia Deskripsi
PELAKSANAAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL RNDI TINJAU DARI PP NOMOR 10 TAHUN 1983 RNJUNCTO PP NOMOR 45 TAHUN 1990 RN (SUATU PENELITIAN DI KANTOR BKPP KAB. BIREUEN) (Miftahul Jannah, 2015)
PEMENUHAN HAK-HAK ISTERI DALAM PERKARA CERAI GUGAT (STUDI KASUS DI WILAYAH HUKUM MAHKAMAH SYAR’IYAH SUKA MAKMUE) (Muhammad Zakirul Fuad, 2024)
PENGARUH KOMITMEN, DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA DINAS KESEHATAN DEWAN DAN PETERNAKAN PEMERINTAH ACEH (Burhan Ali, 2025)
NAFKAH HADHANAH ANAK SETELAH PERCERAIAN KARENA CERAI GUGAT (SUATU PENELITIAN DI WILAYAH HUKUM MAHKAMAH SYAR’IYAH BANDA ACEH) (Ramadhani Melisa Dewi, 2025)
SANKSI PERDATA DALAM PENEGAKAN HAK ANAK UNTUK MEMPEROLEH BIAYA PENDIDIKAN DARI AYAH PASCA PERCERAIAN ( SUATU PENELITIAN DI MAHKAMAH SYAR’IYAH BIREUEN ) (MUAMMAR FAJARA, 2026)