<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="22888">
 <titleInfo>
  <title>TINJAUAN YURIDIS PERSIDANGAN MAHKAMAH KEHORMATAN DEWAN DALAM PERKARA PELANGGARAN KODE ETIK</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>KHAIRUL AZWAR</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>i&#13;
ABSTRAK&#13;
KHAIRUL AZWAR  TINJAUAN  YURIDIS  PERSIDANGAN&#13;
MAHKAMAH  KEHORMATAN  DEWAN  DALAM &#13;
PERKARA KODE ETIK&#13;
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala&#13;
(v, 62) pp.,bibl.&#13;
Zahratul Idami, S.H.,M.Hum.&#13;
Pasal  2  ayat  (3)  huruf  (i)  Peraturan  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik &#13;
Indonesia  Nomor  2  Tahun  2015  tentang  tata  beracara  Mahkamah  Kehormatan &#13;
Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik  Indonesia  menyatakan  bahwa  dalam &#13;
menjalankan fungsi dan tugasnya, MKD berwenang memutus perkara pelanggaran &#13;
yang  patut  diduga  dilakukan  oleh  Anggota  yang  tidak  melaksanakan  salah  satu &#13;
kewajiban  atau  lebih  dan/atau  melanggar  ketentuan  larangan  sebagaimana &#13;
dimaksud  dalam  undang-undang  yang  mengatur  mengenai  MD3,  Peraturan  DPR &#13;
yang  mengatur  tentang  tata  tertib  dan  kode  etik.  Akan  tetapi  pada  kenyataannya &#13;
Mahkamah  Kehormatan  Dewan  (MKD)  menghentikan  persidangan  dalam  hal &#13;
dugaan    pelanggaran  kode  etik  kasus  Setya  Novanto  tanpa  adanya  amar  putusan &#13;
yang  menyatakan teradu tidak terbukti melanggar atau menyatakan teradu terbukti &#13;
melanggar.&#13;
Tujuan penulisan skripsi ini untuk mengetahui dan menjelaskan  persidangan &#13;
MKD  dalam perkara pelanggaran kode etik kasus Setya Novanto telah sesuai atau &#13;
tidak dengan peraturan yang ada  dan analisis hukum  terhadap MKD menghentikan &#13;
persidangannya dalam perkara tersebut.&#13;
Metode  yang  digunakan  dalam  skripsi  ini  metode  penelitian  yuridis &#13;
normatif,  yaitu metode  penelitian kepustakaan (library research)  yang didapatkan &#13;
dari bahan-bahan  hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.&#13;
Data  yang  diperoleh  disusun  secara  sistematis  dan  selanjutnya  dianalisis  secara &#13;
kualitatif untuk mengkaji kejelasan terhadap masalah yang diteliti. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persidangan MKD tidak sesuai dengan&#13;
peraturan yang ada karena seharusnya menurut  Pasal 147 ayat (4) Undang-undang &#13;
Nomor 42 Tahun 2014 tentang MD3 dan Pasal 56 ayat (7) Peraturan DPR Nomor 2 &#13;
Tahun  2015  tentang  tata  beracara  MKD  menyatakan  teradu  tidak  terbukti &#13;
melanggar atau menyatakan teradu terbukti melanggar  namun hal ini tidak ada dan &#13;
MKD  menghentikan  persidangannya  yang  seharusnya  MKD  tetap  melanjutkan &#13;
persidangan  sesuai  Pasal  9  Peraturan  DPR  Nomor  2  Tahun  2015  tentang  tata &#13;
beracara  MKD  walaupun  Setya  Novanto  mengundurkan  diri  dari  ketua  DPR  RI. &#13;
Mengenai  analisis  hukum  terhadap  MKD  menghentikan  persidangan  yang  tanpa &#13;
adanya amar putusan  persidangan  tetap harus di lanjutkan  walaupun Setya Novanto &#13;
mengundurkan diri dari Ketua DPR RI bukan mengundurkan diri dari anggota DPR &#13;
berdasarkan  pasal  9  Peraturan  DPR  Nomor  2  Tahun  2015  tentang  tata  berac ara &#13;
MKD  pengaduan  pelanggaran  terhadap  anggota  tidak  dapat  diproses  jika  teradu &#13;
meninggal dunia, telah mengundurkan diri, atau telah ditarik keanggotaannya oleh &#13;
partai  politik.  Persidangan  yang  tidak  dilanjutkan  ini  sehingga  Setya  Novanto &#13;
dinyatakan tidak melanggar kode etik.&#13;
MKD  sebagai lembaga penegak etik  maka disarankan MKD  harus melepas &#13;
semua  kepentingan  politik  golongannya  serta  tetap  berpedoman  pada  peraturan &#13;
dalam  menegakkan  kode  etik  DPR.  Sebaiknya  anggota  MKD  tidak  hanya &#13;
beranggotakan DPR  saja, namun harus ada orang luar sebagai penyeimbang, seperti &#13;
akademisi, ahli hukum, dan tokoh masyarakat.&#13;
2016</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>22888</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-06-28 16:31:07</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-06-29 12:03:04</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>