<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="22187">
 <titleInfo>
  <title>PENGEMBANGAN MOTIF HIAS ACEH PADA BUSANA ADAT PENGANTIN DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Anggia Mustika</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Kata Kunci: Pengembangan, Motif hias Aceh, Busana adat pengantin&#13;
Penelitian yang berjudul  ‘’Pengembangan Motif hias Aceh pada busana adat pengantin di kota Banda Aceh’’ bertujuan  untuk mengidentifikasi motif hias Aceh sebelum terjadi pengembangan pada busana adat pengantin dan Pengembangan motif  hias Aceh  pada busana adat pengantin di kota  Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang besifat naturalistik, dengan subjek penelitian empat orang tokoh adat. Pengumpulan data diperoleh dari observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik pengambilan subjek dilakukan berdasarkan pertimbangan orang-orang yang penting dan tepat memberikan informasi tentang masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busana utama adat pengantin Aceh terdiri dari bajee, ija panyang dan seleuweu meutunjong. Dahulu bajee Aceh tidak diberi hiasan motif seperti sekarang kecuali pada seleuweu meutunjong dan busana pelengkap. Motif hias Aceh merupakan warisan yang diterapkan pada rumah adat, jeungki, hingga batu nisan. Secara umum motif hias Aceh terbagi dalam lima jenis motif  yaitu: motif keagamaan, motif flaura, motif fauna, motif alam dan motif geometris yang bisa dikembangkan sesuai dengan ide perancangnya dengan syarat tetap mempertahankan keaslian dari motif yang dikembangkan. Pengembangan motif hias pada busana adat pengantin di Kota Banda Aceh yang terjadi terlihat dari teknik penempatan dan rangkaian motif yang disusun dan lebih terfokus pada bagian baju, padahal penerapan motif hias bisa dilakukan pada bagian busana lainnya dengan menggunakan pola yang disesuaikan. Pengembangan saat ini  patut dihargai sebagai upaya mempertahankan identitas suku Aceh dari gejolak pergeseran nilai budaya pada busana adat pengantin Aceh sejalan perkembangan teknologi. Diharapkan kepada desainer agar mampu memenuhi tantangan konsumen dengan merancang busana adat pengantin dengan pengembangan motif hias Aceh yang inovatif dan tidak monoton agar masyarakat lebih tertarik terhadap busana adat pengantin bermotif Aceh dan kebudayaan Aceh tetap lestari.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>22187</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-06-17 14:26:13</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-06-17 14:36:23</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>