<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="19697">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH TEKNIK CURING DENGAN TEKANAN DAN TANPA TEKANAN TERHADAP MONOMER SISA RESIN AKRILIK HEAT CURED</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NURACHMI ELIZA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Resin  akrilik  heat  cured  adalah  campuran  antara  monomer  metil  metakrilat  dan polimer  metil  metakrilat  yang  mengalami  proses  curing  dengan  pemanasan.  Proses polimerisasi  tidak  pernah  terjadi  dengan  sempurna  dan  masih  menghasilkan monomer sisa  yang mengakibatkan reaksi iritasi, alergi dan inflamasi  dalam rongga mulut.  Beberapa  metode  polimerisasi  panas  dapat  meminimalkan  jumlah  monomer sisa.  Dokter  gigi  biasanya  memilih  curing  tanpa  tekanan  untuk  perebusan  resin akrilik  karena  lebih  ekonomis  daripada  microwave,  tetapi  di  Indonesia  beberapa dokter  gigi  menggunakan  curing  dengan  tekanan  untuk  perebusan  resin  akrilik. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  pengaruh  teknik  curing  dengan  tekanan dan  tanpa  tekanan  terhadap  monomer  sisa  resin  akrilik  heat  cured.  Penelitian  ini menggunakan  resin  akrilik  QC  20  dalam  bentuk  silinder  dengan  ukuran  diameter 50±1 mm dan tebal 2±0,5 mm. Jumlah spesimen sebanyak 10 spesimen yang dibagi menjadi  2  kelompok  yaitu  5  spesimen  dicuring  dengan  tekanan  dan  5  spesimen dicuring tanpa tekanan.  Pengukuran monomer sisa menggunakan  Gas Kromatografi dengan  jenis  detektor  Flame  Ionization  Detector  (FID).  Analisis  statistik  data penelitian  ini  menggunakan  uji  t-test  independent.  Hasil  uji  t-test  independent menunjukkan  bahwa  tidak  ada  perbedaan  yang  bermakna  (p&gt;0.05)  antara  teknik curing  dengan  tekanan  dan  tanpa  tekanan.  Dapat  disimpulkan  bahwa  tidak  terdapat pengaruh  curing  dengan  tekanan  dan  tanpa  tekanan  terhadap  monomer  sisa  resin akrilik heat cured.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>19697</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-02-26 17:36:10</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-03-03 10:40:05</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>