<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="19272">
 <titleInfo>
  <title>KONSENTRASI PROGESTERON SAPI ACEH YANG MENGALAMI INDUKSI BERAHI DENGAN METODE PRESYNCH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Cut Erika Ramadhana</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sinkronisasi berahi menggunakan metode presynch terhadap peningkatan konsentrasi hormon progesteron sapi aceh. Dalam penelitian ini digunakan 10 ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, kelompok K1 dan K2 yang masing-masing terdiri dari 5 ekor sapi untuk tiap kelompok. Kelompok pertama disinkronisasi  berahi dengan metode presynch yang dimulai dengan penyuntikan 5 ml PGF2? pertama secara intramuskular. Setelah 14 hari kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan PGF2? yang kedua, lalu dilanjutkan dengan inisiasi protokol ovsynch 11 hari kemudian. Protokol ovsynch dimulai dengan penyuntikan 1 ml GnRH dan dilanjutkan dengan penyuntikan 5 ml PGF2? setelah 7 hari, kemudian diikuti dengan penyuntikan 1 ml GnRH setelah 48 jam. Lalu   12-24 jam kemudian seluruh sapi diinseminasi dengan semen beku. Pada kelompok kedua disinkronisasi berahi menggunakan 5 ml PGF2? secara intramuskular dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 12 hari. Setelah   48 jam seluruh sapi pada kelompok kedua diinseminasi. Pada akhir perlakuan darah dikoleksi pada hari ke-7 pasca inseminasi untuk pemeriksaan progesteron menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi progesteron pada kedua kelompok perlakuan berturut-turut adalah 23,85±15,14 dan 12,69±5,64 ng/ml. Pada kelompok pertama yang disinkronisasi estrus dengan metode presynch terlihat ada kecenderungan peningkatan konsentrasi hormon progesteron dibandingkan kelompok kedua yang diinduksi dengan PGF2?. Namun demikian secara statistik konsentrasi hormon progesteron pada kedua kelompok tersebut tidak berbeda (P&gt;0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode presynch belum mampu meningkatkan konsentrasi progesteron sapi aceh secara optimal.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>19272</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-02-03 16:23:47</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-02-04 10:06:16</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>