<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="18708">
 <titleInfo>
  <title>PERGESERAN MAKNA NILAI SOSIAL TRADISI TOLAK BALA (STUDI PADA KECAMATAN BLANGPIDIE KABUPATEN ACEH BARAT DAYA)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>JULIATI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Null</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tradisi  tolak bala  merupakan salah satu tradisi yang ada pada masyarakat Aceh. &#13;
Tradisi  tolak bala  pada masyarakat di Kecamatan Blangpidie Kabupaten  Aceh &#13;
Barat  Daya  dimaksudkan untuk menghindari (menghilangkan) bala atau penyakit &#13;
yang datang pada bulan tertentu yaitu di hari Rabu terakhir pada bulan Shafar atau &#13;
biasa juga disebut dengan  rabu abeh  dalam masyarakat Aceh  bagian Barat-&#13;
Selatan. Tradisi  tolak bala  ini dilaksanakan atas dasar pandangan bahwa bulan &#13;
Shafar adalah bulan panas dan banyak naasnya yang biasa membawa bahaya.&#13;
Tradisi ini kerap dilakukan oleh masyarakat Aceh bagian Barat-Selatan khususnya &#13;
masyarakat Aceh Barat Daya setiap satu tahun sekali.  Namun dewasa ini telah &#13;
banyak terjadi perubahan budaya  pada  masyarakat Aceh  yang  saat ini  telah &#13;
banyak melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat Aceh.  Dahulu &#13;
masyarakat  Kecamatan Blangpidie Kabupaten  Aceh Barat Daya melakukan ritual &#13;
tolak bala itu dengan  berzikir serta   menghanyutkan ayam putih di sungai ataupun &#13;
di pantai,  namun  dalam beberapa tahun ini  tolak bala dilakukan hanya dengan &#13;
sekedar makan-makan dan mandi-mandi di tepi sungai ataupun di tepi pantai.&#13;
Tujuan penelitin ini untuk mengetahui bagaimana pergeseran makna nilai sosial &#13;
tradisi tolak bala dan apa penyebab pergeseran makna nilai sosial tardisi tolak bala&#13;
di Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya. Teori yang digunakan &#13;
dalam penelitian ini adalah teori Blumer tentang  perspektif  interaksionalisme &#13;
simbolik.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu data diperoleh &#13;
dari observasi,  wawancara dan dokumentasi.  Hasil  penelitian meunjukkan bahwa &#13;
adanya pergeseran makna nilai sosial tradisi  tolak bala  pada masyarakat di &#13;
Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya yang disebabkan oleh &#13;
beberapa  faktor  seperti terjadinya modernisasi pada masyarakat , kurangnya &#13;
partisipasi anak muda, dan banyak masuknya para pendatang  di Kecamatan &#13;
Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya.&#13;
&#13;
Kata kunci : tolak bala , nilai sosial, masyarakat.</note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>18708</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2016-01-13 16:09:52</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2016-01-14 09:31:15</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>