ANOMALI MOBILISASI POLITIK KPA TERHADAP PARTAIRNACEH DALAM PILKADA ACEH SELATAN TAHUN 2024 RN(STUDI KASUS PENCALONAN BUPATI OLEH PARTAI ACEH) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

ANOMALI MOBILISASI POLITIK KPA TERHADAP PARTAIRNACEH DALAM PILKADA ACEH SELATAN TAHUN 2024 RN(STUDI KASUS PENCALONAN BUPATI OLEH PARTAI ACEH)


Pengarang

SYAHRIL QADRI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Muliawati - 199205242017012101 - Dosen Pembimbing I
Ardiansyah - 199013012016041101 - Penguji
Bahagia - 198803142023211026 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2110103010086

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dinamika politik dalam Pilkada Aceh Selatan
Tahun 2024, khususnya terkait batalnya Partai Aceh mengusung pasangan
Darmansyah–Sudirman sebagai calon kepala daerah. Keputusan tersebut
menimbulkan berbagai reaksi di internal Partai Aceh maupun jaringan Komite
Peralihan Aceh (KPA) yang selama ini berperan penting dalam mobilisasi
dukungan politik. Perubahan keputusan politik tersebut memunculkan perbedaan
sikap di kalangan elite dan anggota KPA sehingga mempengaruhi konsolidasi
organisasi serta arah dukungan politik di tingkat masyarakat. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi batalnya
dukungan Partai Aceh terhadap pasangan Darmansyah–Sudirman serta Pola
Mobilisasi Politik Komite Peralihan Aceh Beserta Dampaknya Terhadap Partai
Aceh Pada Pilkada Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
dengan pengurus Partai Aceh, anggota KPA, tim pemenangan, dan tokoh
masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batalnya dukungan terhadap
pasangan Darmansyah–Sudirman dipengaruhi oleh dominasi elite pusat Partai
Aceh, visi-misi pasangan Idaman tidak sejalan dengan visi-misi Partai Aceh, serta
pertimbangan peluang kemenangan dan legitimasi organisasi. Keputusan yang
bersifat top-down tersebut memicu resistensi di tingkat daerah, khususnya dari
sebagian jaringan Komite Peralihan Aceh (KPA). Akibatnya, pola mobilisasi
politik berubah dari terpusat menjadi terfragmentasi, yang ditandai dengan
munculnya arah dukungan yang berbeda. Kondisi ini menyebabkan melemahnya
konsolidasi internal, menurunnya efektivitas mesin politik, serta berkurangnya
kepercayaan kader dan masyarakat. Fragmentasi tersebut turut berkontribusi pada
kekalahan Partai Aceh dalam Pilkada Aceh Selatan Tahun 2024 dan berpotensi
memengaruhi kekuatan partai dalam kontestasi politik selanjutnya. Berdasarkan
temuan tersebut, disarankan agar Partai Aceh memperkuat komunikasi politik dan
konsolidasi internal dengan jaringan KPA dalam setiap pengambilan keputusan
strategis guna menjaga soliditas organisasi dan kepercayaan masyarakat.

Kata Kunci: Partai Aceh, Komite Peralihan Aceh, Mobilisasi Politik, Pilkada
Aceh Selatan 2024.

ABSTRACT This research was motivated by the political dynamics surrounding the 2024 South Aceh Regional Head Election (Pilkada), particularly the Aceh Party's decision to withdraw its support for the Darmansyah–Sudirman pair as regional head candidates. This decision triggered various reactions within the Aceh Party and the Aceh Transitional Committee (Komite Peralihan Aceh/KPA), which has long played a significant role in mobilizing political support. The change in political decision created differences of opinion among the party elites and KPA members, affecting organizational consolidation and the direction of political support at the grassroots level. This study aims to identify the factors behind the Aceh Party's withdrawal of support for the Darmansyah–Sudirman pair and to analyze the political mobilization pattern of the Aceh Transitional Committee (KPA) and its impact on the Aceh Party during the 2024 Regional Head Election. This research employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through interviews with Aceh Party officials, KPA members, campaign team members, and community leaders. The findings reveal that the withdrawal of support for the Darmansyah–Sudirman pair was influenced by the dominance of the Aceh Party's central elites, the incompatibility between the Idaman pair's vision and mission and those of the Aceh Party, as well as considerations regarding electoral prospects and organizational legitimacy. This top-down decision generated resistance at the regional level, particularly among segments of the Aceh Transitional Committee (KPA). As a result, the pattern of political mobilization shifted from a centralized to a fragmented model, characterized by divergent directions of political support. This situation weakened internal consolidation, reduced the effectiveness of the party's political machinery, and diminished the confidence of both party cadres and the public. The fragmentation also contributed to the Aceh Party's defeat in the 2024 South Aceh Regional Head Election and may affect the party's political strength in future electoral contests. Based on these findings, it is recommended that the Aceh Party strengthen political communication and internal consolidation with the KPA network in every strategic decisionmaking process in order to maintain organizational cohesion and public trust. Keywords: Partai Aceh, Aceh Transitional Committee, political mobilization, 2024 South Aceh Regional Election.

Citation



    SERVICES DESK