PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN MAHAR PERNIKAHAN (STUDI PADA GAMPONG SUKA JAYA KECAMATAN MUARA TIGA) | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN MAHAR PERNIKAHAN (STUDI PADA GAMPONG SUKA JAYA KECAMATAN MUARA TIGA)


Pengarang

Nada Syifa Alia Nurof - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Dara Fatia, M.Sos - 199510312022032008 - Dosen Pembimbing I
Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Penguji
Zulfan - 196107081989101001 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2210101010002

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : FISIP Sosiologi., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Mahar dalam pernikahan islam merupakan hak penuh perempuan sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab dari calon suami. Namun, dalam praktik sosial masyarakat, fungsi mahar sering mengalami pergeseran, termasuk digunakan untuk memenuhi kebutuhan pernikahan. Fenomena tersebut juga ditemukan pada masyarakat Gampong Suka Jaya, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Dimana jeulame (mahar) digunakan untuk membiayai pelaksanaan khanduri serta memenuhi kebutuhan awal rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap penggunaan mahar untuk kebutuhan pernikahan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan di analisis menggunakan teori Alfred Schutz melalui konsep Because Motive dan In Order To Motive. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara,dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Gampong Suka Jaya memaknai mahar tidak hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya dan simbol tanggung jawab laki-laki dalam pernikahan. Penggunaan mahar untuk kebutuhan pernikahan dipersepsikan sebagai upaya untuk meringankan beban ekonomi keluarga serta membantu pasangan mempersiapkan kehidupan rumah tangga. Namun ditemukan perbedaan persepsi, dimana sebagian masyarakat tetap menilai bahwa mahar merupakan hak mutlak perempuan sehingga penggunaan nya harus berdasarkan persetujuan perempuan sebagai pemilik mahar. Adapun faktor yang mempengaruhi penggunaan mahar meliputi adat, turun-temurun dan kondisi ekonomi, dan kesepakatan keluarga.

Kata Kunci: Persepsi Masyarakat, Mahar untuk kebutuhan Pernikahan, Fenomenologi Alfred Schutz

In Islamic marriage, the mahar (dowry) is the woman's absolute right, serving as a mark of respect and a demonstration of the prospective husband's sense of responsibility. However, in social practice, the function of the mahar often shifts, with the funds sometimes being used to cover wedding-related expenses. This phenomenon is observed in the community of Gampong Suka Jaya, Muara Tiga District, Pidie Regency, where the jeulame local term for mahar is utilized to finance the wedding feast khanduri and meet initial household needs. This study aims to analyze community perceptions regarding the use of jeulame for wedding expenses and to identify the factors influencing this practice. The study employs a qualitative method with a phenomenological approach, analyzing the data through Alfred Schutz’s theory specifically the concepts of Because Motive and In Order To Motive. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the community of Gampong Suka Jaya views the mahar not merely as a religious obligation under Sharia, but also as an element of cultural identity and a symbol of the man's responsibility within the marriage. Using the mahar for wedding expenses is perceived as a way to alleviate the family's economic burden and assist the couple in preparing for their life together. However, divergent views exist; some community members maintain that the mahar is the woman's absolute right, meaning its use must be based on her consent as the owner. Factors influencing the use of the mahar include custom, tradition, economic conditions, and family agreements. Keyword: Community Perception, Mahar for Wedding Expenses, Alfred Schutz’s Phenomenology

Citation



    SERVICES DESK