TANTANGAN MEDIA KONVENSIONAL DI TENGAH ERA HOMELESS MEDIA | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

TANTANGAN MEDIA KONVENSIONAL DI TENGAH ERA HOMELESS MEDIA


Pengarang

ZUCHRA AZIZI - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Uswatun Nisa - 199107202022032012 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2210102010076

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Subject
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

302.23

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Seiring dengan kehadiran homeless media, maka media konvensional mengalami
sejumblah tantangan baik disisi jurnalisme maupun dari sisi bisnis. Karena itu media
konvensional di tuntut untuk bisa beradaptasi untuk bisa memiliki strategi adaptasi di
era homeless media ini atau untuk mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan
media digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dan strategi
adaptasi yang dihadapi media konvensional di tengah menjamurnya homeless media.
Penelitian ini berfokus pada dua media konvensional di Aceh yaitu Serambi Indonesia
dan Rakyat Aceh. Penelitian ini menggunakan Teori Disrupsi Inovasi Clayton
Christensen sebagai landasan analisis. Metode yang digunakan adalah penelitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara semi
terstruktur dengan enam informan yang terdiri atas tiga informan dari Serambi
Indonesia dan tiga informan dari Rakyat Aceh, kemudian dianalisis melalui tahap
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa homeless media memunculkan tantangan bagi media konvensional,
dikarenakan dapat men-downgrade media mainstream, merugikan media
konvensional karena mengambil konten dan memanfaatkannya sebagai lahan
keuntungan, dapat menggerus kepercayaan publik terhadap media termasuk media
konvensional, menghadapi perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang
menuntut kecepatan, dengan tetap mempertahankan prinsip dan etika jurnalisme.
Homeless media juga menjadi rentan missinformasi dan hoax serta tidak dapat
mempertanggung jawabkan beritanya secara hukum. Strategi adaptasi yang dilakukan
oleh Serambi Indonesia dan Rakyat Aceh adalah dengan cara bertransformasi dengan
cara memanfaatkan banyak platform digital, beradaptasi dengan AI, mempertahankan
standar jurnalistik dengan cara menyajikan berita yang berimbang seperti
coverbothside, tetap menghadirkan informasi yang positif, dan informasi yang
terpredikasi dan dapat memperluas kerjasama dengan instansi pemerintahan, ataupun
dengan swasta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kehadiran homeless media
mendorong media konvensional untuk beradaptasi tanpa mengorbankan prinsip
prinsip jurnalistik. Serambi Indonesia dan Rakyat Aceh tetap mengutamakan
verifikasi, akurasi, keberimbangan, serta tanggung jawab hukum dalam setiap
pemberitaan, sehingga kredibilitas dan kepercayaan publik menjadi kekuatan utama
dalam menghadapi perkembangan media digital.

Kata kunci: Homeless Media, Media Konvensional, Disrupsi Inovasi, Transformasi
Digital, Jurnalisme.

The emergence of "homeless media" has presented conventional media with a range of challenges, spanning both journalistic and business dimensions. Consequently, conventional media outlets are compelled to adapt—devising strategies to navigate the homeless media era and sustain their existence amidst fierce digital media competition. This study aims to identify the challenges and adaptation strategies faced by conventional media in the wake of the proliferation of homeless media. It focuses on two conventional media outlets in Aceh: Serambi Indonesia and Rakyat Aceh. The study employs Clayton Christensen’s theory of disruptive innovation as its analytical framework, utilizing a qualitative research method with a descriptive approach. Data were gathered through semi-structured interviews with six informants—three from Serambi Indonesia and three from Rakyat Aceh—and subsequently analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that homeless media poses significant challenges to conventional media by potentially diminishing the status of mainstream outlets, causing financial harm through the appropriation of content for profit, and eroding public trust in media—including conventional outlets. Furthermore, conventional media must navigate shifting public information consumption patterns that demand speed while simultaneously upholding journalistic principles and ethics. Homeless media is also prone to spreading misinformation and hoaxes, lacking legal accountability for its news content. Adaptation strategies adopted by Serambi Indonesia and Rakyat Aceh include transforming through the use of multiple digital platforms, integrating AI, maintaining journalistic standards (such as ensuring balanced reporting and "covering both sides"), providing positive and credible information, and expanding partnerships with government agencies and the private sector. The study concludes that the rise of homeless media compels conventional media to adapt without compromising journalistic principles. Serambi Indonesia and Rakyat Aceh consistently prioritize verification, accuracy, balance, and legal responsibility in all their reporting, ensuring that credibility and public trust serve as their primary strengths in navigating the evolution of digital media. Keywords: Homeless Media, Conventional Media, Disruptive Innovation, Digital Transformation, Journalism.

Citation



    SERVICES DESK