KAJIAN MOLEKULER PENDERITA SCABIES DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS) PADA HEWAN COBA. | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

KAJIAN MOLEKULER PENDERITA SCABIES DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH PALA (MYRISTICA FRAGRANS) PADA HEWAN COBA.


Pengarang

Erizal - Personal Name;

Dosen Pembimbing

M. Hanafiah - 196903021997031001 - Dosen Pembimbing I
Mudatsir - 196703251992031002 - Dosen Pembimbing II
Teuku Zahrial Helmi - 197607152005011002 - Dosen Pembimbing III



Nomor Pokok Mahasiswa

2209300070025

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3) / PDDIKTI : 44001

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tanaman pala (Myristica fragrans) merupakan salah satu komoditas pertanian penting di Indonesia yang dimanfaatkan dalam industri rempah-rempah, makanan, minuman, dan obat-obatan tradisional. Buah pala diketahui memiliki manfaat kesehatan, termasuk sebagai antimikroba. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, penelitian berfokus pada identifikasi karakteristik scabies pada remaja di pesantren Aceh Timur dan Kota Langsa menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Selain itu, dilakukan skrining fitokimia pada buah pala asal Aceh Selatan menggunakan metode GC-MS. Tahap kedua, penelitian berfokus pada pengujian efektivitas spray berbahan ekstrak pala untuk penyembuhan scabies pada kucing dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, dan 25%. Ekstraksi buah pala dilakukan menggunakan pelarut etanol, etil asetat, dan n-heksana. Hasilnya menunjukkan rendemen tertinggi pada pelarut etanol sebesar 18,35%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol mengandung alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid, yang memiliki potensi antibakteri dan antioksidan. Analisis GC-MS terhadap ekstrak etanol mengidentifikasi 25 senyawa, dengan enam senyawa utama berkonsentrasi ≥5%, termasuk 3-Methyl-2,5-Furandione (21,26%) dan Myricitin (5,35%). Uji In-Silico dilakukan untuk mengevaluasi interaksi senyawa bioaktif dengan target enzim atau protein, didukung oleh pengukuran aktivitas antioksidan, kandungan total phenolic content (TPC), dan total flavonoid content (TFC). Ekstrak etanol menunjukkan nilai IC50 sebesar 21,41 ppm, dengan TPC sebesar 76,972 ± 0,97 mg GAE/g dan TFC sebesar 15,625 ± 0,26 mg QE/g, yang mengindikasikan potensi aktivitas biologis yang baik. Scabies, yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei, sering ditemukan di wilayah dengan sanitasi buruk. Pengobatan kimia yang tersedia cenderung mahal dan dapat menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman dan terjangkau. Pada penelitian ini, perlakuan in vitro menggunakan ekstrak pala menunjukkan efektivitas tinggi, dengan tingkat kematian tungau Sarcoptes scabiei mencapai 100% pada konsentrasi 25% setelah 24 jam. Pada konsentrasi 6,25% dan 12,5%, kematian tungau mulai terjadi pada jam ke-8, dengan total kematian masing-masing sebesar 20% dan 60%. Identifikasi tungau menggunakan metode PCR dilakukan dengan sampel tungau dari kucing penderita kudis. Primer Sarms 15 F/R dan 16S D1/D2 digunakan dalam reaksi PCR, dan hasil amplifikasi DNA menunjukkan keberadaan Sarcoptes scabiei var. Hominis dengan ukuran fragmen ±178 bp. Penelitian in vivo pada kucing menunjukkan hasil signifikan berdasarkan uji ANOVA. Kelompok perlakuan dengan spray ekstrak pala 25% dan kontrol positif (ivermectin) menunjukkan penyembuhan keropeng yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (akuades), yang justru mengalami kondisi semakin parah.

Nutmeg (Myristica fragrans) is one of Indonesia's essential agricultural commodities, widely utilized in the spice, food, beverage, and traditional medicine industries. Nutmeg fruit is known to offer health benefits, including antimicrobial properties. This research was conducted in two stages. In the first year, the study focused on identifying the characteristics of scabies among adolescents in Islamic boarding schools in East Aceh and Langsa City using the Polymerase Chain Reaction (PCR) method. Additionally, a phytochemical screening of nutmeg from South Aceh was performed using the GC-MS method. In the second year, the research centered on testing the effectiveness of a nutmeg extract-based lotion for treating scabies in rabbits at concentrations of 6.25%, 12.5%, and 25%. Nutmeg extraction was conducted using ethanol, ethyl acetate, and n-hexane solvents. The highest yield was obtained with ethanol at 18.35%. Phytochemical screening revealed that the ethanol extract contained alkaloids, steroids, saponins, and flavonoids, which have antibacterial and antioxidant potential. GC-MS analysis of the ethanol extract identified 25 compounds, with six major compounds present at concentrations ≥5%, including 3-Methyl-2,5-Furandione (21.26%) and Myricetin (5.35%). An insilico test was conducted to evaluate the interaction of these bioactive compounds with target enzymes or proteins, supported by measurements of antioxidant activity, total phenolic content (TPC), and total flavonoid content (TFC). The ethanol extract demonstrated an IC50 value of 21.41 ppm, with a TPC of 76.972 ± 0.97 mg GAE/g and a TFC of 15.625 ± 0.26 mg QE/g, indicating promising biological activity. Scabies, caused by the mite Sarcoptes scabiei, is commonly found in areas with poor sanitation. Current chemical treatments for scabies are often expensive and may cause side effects, highlighting the need for safer and more affordable alternatives. In this study, in vitro treatment using nutmeg extract showed high effectiveness, with 100% mortality of Sarcoptes scabiei mites at a 25% concentration after 24 hours. At concentrations of 6.25% and 12.5%, mite mortality began at the 8th hour, with total mortality rates of 20% and 60%, respectively. Mite identification using the PCR method was carried out with mite samples collected from cats with mange. The primers Sarms 15F/R and 16S D1/D2 were used in the PCR reaction, and DNA amplification results confirmed the presence of Sarcoptes scabiei var. hominis with a fragment size of approximately 178 bp. An in vivo study on cats demonstrated significant results based on ANOVA testing. The treatment group with 25% nutmeg extract lotion and the positive control group (ivermectin) showed better healing of scab lesions compared to the negative control group (aquades), which exhibited worsening conditions.

Citation



    SERVICES DESK